Menimbang Arah Kebijakan BI Rate Antara Stabilitas dan Sektor Riil

Rabu, 22 Juli 2026 | 23:23:31 WIB
Bank Indonesia (BI) dijadwalkan untuk merilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) [FOTO: NET].

JAKARTA — Bank Indonesia (BI) dijadwalkan untuk merilis hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi bulan Juli 2026 pada hari Rabu (22/7/2026) siang. Otoritas moneter saat ini berada di titik dilematis: memilih opsi memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan tingkat harga, atau mengambil jalan untuk meredam tekanan beban pada sektor riil.

Kalangan ekonom pun terpecah ke dalam dua kubu pandangan; sebagian memprediksi bank sentral bakal mengerek naik suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin (bps) ke level 6%, sementara kubu lainnya meyakini bahwa pihak BI akan mengerem laju pengetatan moneter dan mempertahankan BI Rate di posisi 5,75%.

Berdasarkan himpunan data dari 18 ekonom yang tergabung dalam BIG Consensus Insights oleh DataIndonesia, bagian dari riset Bisnis Indonesia Group (BIG), terungkap bahwa sebanyak 10 ekonom atau analis (55,56%) memperkirakan BI Rate akan mengalami kenaikan, sedangkan 8 ekonom atau analis lainnya (44,44%) memproyeksikan posisi BI Rate bakal tetap.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual menjadi salah satu tokoh yang berada di barisan pendukung proyeksi kenaikan suku bunga. Menurut pandangannya, ruang bagi BI untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,00% terbuka cukup lebar, yang tersulut oleh perburukan ekspektasi inflasi ke depan. 

Ancaman cuaca ekstrem El Nino yang berpotensi memicu lonjakan harga pada sektor inflasi bergejolak (volatile food) menjadi salah satu katalis utamanya. Sepanjang bulan Juni 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi volatile food sudah menyentuh angka 5,78% secara tahunan (year on year/YoY), yang berarti telah melampaui rentang target inflasi umum di kisaran 2±1%.

Di sisi lain, tekanan dari faktor eksternal belum menunjukkan tanda-tanda reda di tengah ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), masih berpeluang menaikkan suku bunga acuannya (Fed Funds Rate) setidaknya 25 bps pada paruh kedua tahun 2026 ini.

"BI Rate sebenarnya sudah lagging behind [tertinggal] dari indikator suku bunga lain seperti SRBI [Sekuritas Rupiah Bank Indonesia] yang sudah lebih tinggi, dan juga Indonia yang konsisten berada di atas level 6% selama dua minggu terakhir," urai David kepada Bisnis, Selasa (21/7/2026).

Kondisi tingkat suku bunga Indonia (Indonesia Overnight Index Average) yang bergerak naik menjauhi posisi BI Rate memberikan indikasi bahwa likuiditas di pasar uang antarbank tengah mengalami pengetatan, sehingga langkah penyesuaian BI Rate dinilai sebagai tindakan yang rasional dalam merespons kondisi riil pasar.

Berbeda sudut pandang, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menaksir bahwa otoritas moneter akan memilih untuk mempertahankan BI Rate di angka 5,75%. Keputusan ini didasari oleh pertimbangan bahwa pihak BI baru saja menaikkan BI Rate sebesar 100 bps dalam rentang dua bulan terakhir. 

Menurut Josua, kebijakan moneter memerlukan jeda waktu atau transmission lag agar dapat bekerja secara efektif. Oleh sebab itu, BI dinilai perlu memberikan ruang transmisi guna memantau dampak nyata dari penyesuaian bulan lalu terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, laju inflasi, pergerakan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN), hingga efektivitas penyaluran kredit perbankan.

Kendati demikian, Josua menegaskan bahwa mempertahankan suku bunga tidak serta-merta mengindikasikan bahwa BI sedang bergeser ke arah kebijakan yang longgar.

"Menahan BI-Rate di 5,75% tetap bisa dibaca sebagai sikap ketat apabila disertai komunikasi yang tegas bahwa BI siap menaikkan suku bunga lagi jika rupiah kembali tertekan. 

Tekanan inflasi pada Juni yang naik menjadi 3,34% YoY lebih banyak berasal dari sisi biaya, seperti kenaikan biaya input impor, BBM nonsubsidi, dan tarif angkutan udara, bukan lonjakan permintaan," paparnya kepada Bisnis, Selasa (21/7/2026).

Tambahan kenaikan suku bunga, lanjut Josua, tidak akan serta-merta menuntaskan akar persoalan inflasi yang bersumber dari gangguan pasokan. 

Sebaliknya, langkah yang terlalu agresif justru memanggul risiko memperbengkak biaya dana (cost of fund) perbankan, mengerek naik suku bunga kredit baru, menekan pasar SBN, serta memperbesar beban biaya pembiayaan pemerintah.

Lebih jauh, Josua menyoroti tingkat kualitas dari arus masuk modal asing. Kendati total perolehan arus masuk portofolio sempat mencapai US$3,89 miliar pada Juni, aliran dana tersebut sangat didominasi oleh instrumen berjangka pendek yakni SRBI yang mencapai US$9,03 miliar sejak awal tahun (year to date/YtD). Sebaliknya, lantai bursa saham justru membukukan arus modal keluar mencapai US$4,19 miliar.

"Untuk menjaga tren aliran modal masuk, kebijakan BI saja tidak cukup. Pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dan menjaga defisit tetap kredibel," tegasnya.

Nada senada turut disampaikan oleh Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky yang memproyeksikan bank sentral akan menahan laju suku bunga acuan dalam agenda RDG kali ini. Riefky menyoroti faktor kerentanan eksternal yang kian nampak jelas, terutamanya setelah neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. 

Angka tersebut menjadi alarm peringatan keras karena merepresentasikan catatan defisit perdana yang dialami Indonesia setelah menikmati tren surplus selama 72 bulan berturut-turut. Laju pertumbuhan impor terbukti terus melampaui kinerja ekspor di tengah kondisi pelemahan ekonomi global.

Dari aspek nilai tukar, Riefky memaparkan bahwa rupiah telah mengalami depresiasi yang cukup dalam hingga menyentuh kisaran level Rp18.060 per dolar AS, atau setara dengan pelemahan 7,29% secara YtD.

"Mengingat tekanan inflasi sebagian besar masih didorong oleh sisi penawaran, pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut mungkin hanya akan memberikan dukungan yang semakin berkurang terhadap rupiah," jelas Riefky dalam laporan LPEM FEB UI, Selasa (21/7/2026).

Apabila kebijakan tersebut dipaksakan, Riefky mengkhawatirkan langkah kenaikan suku bunga lanjutan justru akan memukul mundur geliat aktivitas perekonomian domestik yang saat ini sedang berjuang mempertahankan momentum pemulihan. 

Oleh karena itu, langkah mempertahankan BI Rate di level 5,75% dipandang sebagai keputusan paling bijaksana bagi bank sentral guna mencari titik keseimbangan antara jangkar stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.

Terkini