Penyaluran Pembiayaan PT SMF Capai 141,61 Triliun Hingga Juni 2026

Rabu, 22 Juli 2026 | 00:30:32 WIB
PT SMF.

JAKARTA - Direktur Utama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Ananta Wiyogo melaporkan akumulasi penyaluran pembiayaan perseroan sejak tahun 2005 hingga Juni 2026 telah menembus angka Rp141,61 triliun.

"Kami sudah menyediakan selama kami berdiri kurang lebih untuk refinancing itu ada Rp141 triliun," ungkapnya dalam agenda Konferensi Pers Kinerja Semester 1 2026 PT SMF (Persero) di Jakarta, Rabu.

Sepanjang semester I 2026, penyaluran pembiayaan perseroan tercatat menyentuh Rp14,09 triliun yang dikucurkan kepada lembaga keuangan penyalur pembiayaan perumahan demi memperkuat kapasitas penyaluran kredit pemilikan rumah bagi masyarakat.

Di samping melalui kucuran pembiayaan, SMF turut menjalankan fungsi vital sebagai liquidity provider (penyedia likuiditas) lewat skema sekuritisasi aset kredit perumahan.

Hingga Juni 2026, perseroan sukses memfasilitasi 17 transaksi sekuritisasi dengan nilai akumulasi mencapai Rp14,21 triliun. Sekuritisasi ini memungkinkan lembaga keuangan melakukan recycle atas aset kredit perumahan menjadi sumber likuiditas baru, sehingga kapasitas penyaluran pembiayaan dapat ditingkatkan.

Dalam mengeksekusi peran sebagai alat fiskal pemerintah, SMF turut berpartisipasi menyediakan dana pendamping sebesar 25 persen dalam program Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Pendanaan tersebut bersumber dari skema blended finance antara Penyertaan Modal Negara (PMN) dan dana hasil penerbitan surat utang SMF.

Hingga Juni 2026, akumulasi PMN yang diserap SMF demi menopang program KPR FLPP menembus Rp17,91 triliun, yang dioptimalkan melalui pendanaan dari SMF hingga menghasilkan total penyaluran sebesar Rp36,77 triliun untuk mendukung pembiayaan 962.650 unit rumah. Seluruh PMN yang diterima SMF telah tersalurkan secara penuh sampai dengan Juni 2026.

Adapun sektor perumahan dinilai memberi dampak berganda yang luas terhadap roda perekonomian. Berdasarkan riset SMF, tiap suntikan investasi sebesar Rp1 triliun di sektor perumahan diperkirakan sanggup mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp1,83 triliun serta memicu efek berganda bagi sedikitnya 185 sektor ekonomi lainnya.

Penguatan peran SMF ini disokong penuh oleh ketahanan kondisi keuangan perseroan, dengan total aset perseroan hingga Juni 2026 menyentuh Rp68,29 triliun, atau melonjak 21,79 persen dibandingkan posisi Juni 2025 yang tercatat sebesar Rp56,07 triliun.

Begitu pula dengan liabilitas perseroan yang tercatat sebesar Rp40,35 triliun, menguat 14,23 persen ketimbang Juni 2025, serta ekuitas yang tumbuh 34,65 persen dibanding Juni 2025 menjadi Rp27,95 triliun.

Lebih lanjut, SMF berhasil membukukan pendapatan sepanjang semester I 2026 sebesar Rp1,7 triliun, naik 6,25 persen dibandingkan kurun waktu yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,6 triliun.

Seiring pertumbuhan pendapatan yang dibarengi efisiensi beban, laba bersih perseroan terkerek 33,9 persen dibanding Juni 2025 menjadi Rp391 miliar pada Juni 2026. Kualitas aset juga konsisten terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) net yang bertahan di angka 0,00 persen.

Untuk return on equity (ROE), SMF mencatatkan angka sebesar 3,18 persen, debt-to-equity ratio 1,75 kali, serta profit margin menyentuh 22,89 persen.

Menghadapi semester II 2026, manajemen telah menyiapkan tiga jurus strategi guna mendongkrak kinerja. Langkah tersebut meliputi penyediaan likuiditas porsi 25 persen KPR FLPP, mendorong skema pendanaan kreatif sesuai kebutuhan lembaga penyalur kredit perumahan, serta memperdalam pasar sekuritisasi aset di Indonesia lewat pengembangan produk yang presisi bagi kebutuhan originator dan investor.

"Sekuritisasinya yang sedang kami godok ada dua, yang jual putus (true sale) dan tidak jual putus (non-true sale)," ucap Ananta Wiyogo.

Terkini