Deflasi DKI Jakarta Capai 0,15 Persen Terdorong Harga Pangan

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:43:02 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, Kadarmanto.

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan bahwa DKI Jakarta secara bulanan mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Juli 2026. Penurunan ini terutama disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,21 persen.

"Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok ini yaitu cabai merah, bawang merah, dan cabai rawit, masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,07 persen, 0,06 persen, dan 0,03 persen," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto di Jakarta, Senin.

Komoditas lain dalam kelompok tersebut yang turut menyumbang deflasi adalah telur ayam ras dan daging ayam ras dengan andil masing-masing 0,02 persen, disusul jeruk, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, serta tomat yang masing-masing memberi andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Di sisi lain, komoditas yang paling dominan memberikan andil deflasi pada Juli 2026 adalah emas perhiasan sebesar 0,09 persen, diikuti tarif angkutan udara (0,09 persen), cabai merah (0,07 persen), bawang merah (0,06 persen), serta cabai rawit (0,03 persen).

Sepanjang tahun 2026, harga komoditas emas perhiasan tercatat mengalami deflasi secara berturut-turut selama empat bulan terakhir. Menurut Kadarmanto, tren penurunan harga emas perhiasan ini sejalan dengan pergerakan harga emas global, khususnya logam mulia.

"Tren harga emas global mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir, dan secara rata-rata harga emas perhiasan pada Juli berada pada level Rp1.717.620 per kg. Sementara pada Maret mencapai harga yang tertingginya, yaitu Rp1.942.052,72," jelas dia.

Sementara itu, kondisi secara nasional juga mencatatkan deflasi bulanan pada Juli 2026 sebesar 0,14 persen.

Terkini