Epidemiolog Sebut Budi Gunadi Memiliki Modal Kuat Jadi Dirjen WHO

Jumat, 28 Agustus 2026 | 00:13:02 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin.

JAKARTA - Praktisi kesehatan global sekaligus epidemiolog Dicky Budiman menilai Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin (BGS) memiliki modal yang sangat kokoh untuk menggalang dukungan dalam bursa pencalonan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Modal BGS yang terkuat kan penanganan vaksinasi COVID-19 yang lebih dari 400 juta dosis untuk sekitar 200 jutaan penduduk dalam waktu relatif singkat," kata Dicky kepada Kompas.com, Jumat (28/8/2026).

Budi dinilai mengantongi rekam jejak mumpuni dalam memimpin transformasi sistem kesehatan skala besar di tanah air, yang menjadi amunisi narasi kuat guna menghimpun simpati negara-negara berkembang (global south) pada pemilihan Dirjen WHO periode 2027–2032.

Landasan lain yang menempatkan Budi sebagai kandidat potensial adalah keberhasilan pelaksanaan program kesehatan yang tengah berjalan saat ini.

"Selain itu, enam pilar transformasi kesehatan ya, dan juga program cek kesehatan gratis yang menjangkau puluhan juta peserta sepanjang 2026 juga jadi modal penting bagi BGS," kata Dicky, ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Griffith, Australia, tersebut.

"Ini yang bisa jadi narasi kuat ya untuk dijual ke negara berkembang," imbuhnya.

Dicky mengutarakan bahwa selain keunggulan domestik, langkah pencalonan Budi Gunadi tergolong strategis untuk memicu gaung isu-isu krusial negara berkembang di forum diplomasi internasional, terutama seputar keadilan akses kesehatan pascapandemi dan penguatan sistem kesehatan dasar.

"Nah, ada juga isu strategis untuk dibawa ke WHO dari perspektif negara berkembang yang terutama ya reformasi arsitektur kesehatan global pasca pandemi, yaitu soal equity ya, kesetaraan akses vaksin dan obat. Kan Indonesia punya pengalaman langsung ya sebagai penerima dampak ketimpangan distribusi vaksin di 2021," tegasnya.

Meski demikian, Dicky memberikan masukan agar pencalonan Budi tidak dicap sebatas pencitraan semata, yakni dengan menuntaskan berbagai dinamika dalam negeri seperti perselisihan dengan guru besar Universitas Indonesia (UI) perihal penataan ulang kolegium kedokteran serta disparitas fasilitas kesehatan antardaerah.

"Artinya begini, karena sulit meyakinkan dunia bahwa Indonesia layak memimpin tata kelola kesehatan global kalau atau jika fondasi domestiknya sendiri masih diperdebatkan oleh komunitas medisnya sendiri, gitu," tuturnya.

Dicky mengimbuhkan bahwa momentum ini merupakan batu loncatan berharga bagi Indonesia untuk mengambil estafet kepemimpinan global yang selama ini didominasi oleh negara-negara maju.

Menteri Kesehatan Indonesia Budi Gunadi Sadikin resmi masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal WHO, bersanding dengan tiga kandidat dari negara lain sebagaimana tertera pada situs resmi badan PBB tersebut.

Mengutip laman resmi WHO pada Senin (24/8/2026), Budi bakal bersaing ketat dengan Hanan Mohammed Al-Kuwari utusan Qatar, Hanan Balkhy usulan Arab Saudi, serta Hans Henri P Kluge kandidat dari Belgia.

Terkini