JAKARTA - Gorengan menjadi salah satu makanan ringan yang sulit dilewatkan. Tempe, tahu, bakwan, hingga pisang goreng kerap dihidangkan di rumah karena bahan serta cara mengolahnya tergolong cukup mudah.
Memasak sendiri juga sering dianggap lebih sehat dibandingkan membeli gorengan di luar. Minyak dapat dipilih sendiri, bahan makanan bisa dicuci serta diolah dengan lebih terkontrol, termasuk memastikan minyak tidak dipakai berkali-kali.
Lantas, apakah gorengan yang dibuat sendiri di rumah benar-benar lebih sehat?
Spesialis Gizi Klinik Igus Ulfa Yaze mengatakan gorengan buatan rumah memang memiliki keunggulan, terutama dari segi kebersihan. Saat memasak sendiri, penggunaan minyak juga lebih mudah dikendalikan, termasuk memastikan minyak diganti saat sudah tidak layak pakai.
"Kalau secara higienitas, ya lebih higienis. Karena kalau kami beli di luar, kami tidak tahu minyaknya sudah digoreng berkali-kali atau tidak. Kalau di rumah, kami tahu minyaknya sudah harus diganti atau belum," kata Yaze mengutip DetikHealth.
Kendati demikian, faktor kebersihan bukan berarti membuat gorengan rumahan secara otomatis menjadi santapan sehat. Kandungan lemak dan kalori tetap perlu diperhatikan, terutama bila gorengan dikonsumsi dalam jumlah banyak serta terlampau sering.
Bagi orang yang terbiasa menyantap gorengan setiap hari Yaze menyarankan supaya kebiasaan tersebut dikurangi secara bertahap. Contohnya, jika biasanya mengonsumsi lima gorengan dalam sekali makan, jumlahnya dapat diturunkan menjadi dua atau tiga buah. Frekuensinya juga bisa dikurangi dari hampir setiap hari menjadi beberapa kali dalam sepekan.
"Misalnya hampir setiap hari makan gorengan, berarti seminggu itu tiga kali saja. Misalnya setiap kali makan gorengan biasa lima, sekarang berarti dua saja," kata Yaze.
Pengurangan secara bertahap dinilai lebih realistis untuk membangun pola makan yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang. Menghilangkan gorengan secara mendadak juga dapat membuat seseorang semakin mendambakan makanan dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah.
Oleh sebab itu, frekuensi beserta porsi bisa dikurangi perlahan supaya kebiasaan makan yang baru lebih gampang dijalani.
Keinginan untuk menyantap makanan renyah tidak selalu mesti dipenuhi dengan mengolahnya memakai banyak minyak. Salah satu alternatif yang dapat dipakai ialah air fryer. Alat tersebut bisa membantu menghasilkan tekstur renyah lewat penggunaan minyak yang lebih sedikit.
"Misalnya kayak di air fryer, jadi tetap crunchy, tapi mungkin minyaknya lebih minim. Atau lebih bagus lagi misalnya dipanggang. Bagus lagi kalau misalnya dikukus," ucap Yaze.
Metode memasak seperti memanggang, mengukus, atau memakai air fryer bisa menjadi pilihan demi mengurangi penggunaan minyak. Akan tetapi, pilihan metode memasak tetap perlu disesuaikan dengan jenis bahan makanan serta kebutuhan.
Gorengan pada umumnya menggunakan bahan makanan yang dibalut tepung sebelum dimasak dalam minyak. Saat makanan bertepung itu digoreng, kandungan karbohidrat dan lemaknya wajib diperhitungkan sebagai bagian dari asupan harian.
Bila dikonsumsi dalam jumlah banyak, gorengan dapat menyumbang kalori yang cukup besar. Terlebih lagi, makanan bertekstur renyah dan berasa gurih kerap membuat seseorang sulit berhenti seusai menyantap satu atau dua buah.
Yaze menyampaikan makanan bertepung dan gorengan tetap boleh dikonsumsi. Meski begitu, porsi serta frekuensinya wajib diperhatikan. Dengan begitu, gorengan rumahan tetap dapat menjadi bagian dari pola makan.
Memasak sendiri memberikan keuntungan sebab kebersihan bahan, jenis minyak, teknik pengolahan, dan jumlah makanan lebih mudah dikendalikan. Namun, label 'homemade' bukan berarti gorengan bisa dikonsumsi tanpa batasan. Kandungan lemak serta kalori tetap perlu diperhitungkan.