JAKARTA - Kebiasaan harian anak sering kali dianggap sebatas upaya orangtua dalam menertibkan jadwal kegiatan. Mulai dari momen bangun pagi, santap makan, bermain, belajar, hingga beristirahat dilakukan pada waktu yang relatif sama. Kendati demikian, pola teratur tersebut nyatanya bukan cuma urusan mendisiplinkan diri.
Jadwal harian yang dijalankan secara konsisten mampu memberikan pola terstruktur yang menopang tumbuh kembang anak secara optimal.
Melansir informasi dari The Star, Psikolog Klinis Cygnet Health Care, Dr. Rowanne Dinning, menerangkan bahwa rutinitas terbukti membantu pematangan area otak yang berkaitan langsung dengan fungsi eksekutif.
"Korteks prefrontal di otak bertanggung jawab terhadap fungsi eksekutif, yang mencakup fungsi penting seperti perencanaan, pengambilan keputusan, dan penalaran," kata Dinning.
"Memiliki rutinitas dan kepastian membantu membentuk jalur saraf di bagian otak tersebut karena bagian itu terus digunakan, sehingga kami menjadi semakin baik dalam mengambil keputusan dan membuat perencanaan," imbuhnya.
Rutinitas Membantu Anak Mengelola Emosi
Bagi anak kecil, memahami alur kegiatan yang bakal terjadi berikutnya dapat membuat keseharian terasa lebih mudah diprediksi. Menurut Dinning, jadwal yang teratur sanggup menghadirkan pengalaman menyenangkan sekaligus melatih pemahaman anak mengenai urutan waktu.
"Ketika anak memiliki rutinitas, hal tersebut dapat memberikan rasa menyenangkan dan memicu peningkatan dopamin di otak," ujar Dinning.
"Selain itu, ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari hari ke hari, kepastian tersebut dapat membantu mereka mengatur emosinya," lanjutnya.
Sebaliknya, sewaktu pola harian hilang dalam kurun waktu yang lumayan lama, beragam tekanan yang timbul bakal terasa lebih berat bagi sebagian anak. Si kecil pun rentan diserang rasa jenuh. Kondisi demikian berpotensi memicu timbulnya dorongan impulsif atau meningkatkan kecenderungan bertindak berisiko.
"Ketika hal itu dihilangkan, tekanan apa pun yang muncul mungkin terasa lebih sulit. Anak-anak lebih mungkin merasa bosan dan hal ini dapat menyebabkan perilaku impulsif atau peningkatan perilaku berisiko," kata Dinning.
Menurutnya, pengubahan jadwal harian yang mendadak turut berhubungan dengan munculnya kendala kesehatan mental seperti rasa cemas.
Waktu Istirahat Anak Ikut Terpengaruh
Pola kebiasaan harian turut memegang peranan erat terhadap waktu istirahat si kecil. Dinning memaparkan bahwa tidur memegang fungsi krusial bagi pematangan saraf otak, terkhusus pada usia tumbuh kembang.
"Tidur malam yang cukup sangat penting bagi otak, terutama pada anak kecil yang otaknya masih berkembang, karena pada saat itulah otak dapat memproses apa yang terjadi sepanjang hari serta memiliki waktu untuk tumbuh dan memperbaiki diri," jelasnya.
Oleh karena itu, pergeseran jam tidur dapat mengganggu proses pemulihan tersebut. Anak yang terbiasa tidur serta bangun tepat waktu dapat mengalami penurunan kualitas diri saat jadwalnya bergeser terlalu jauh.
Waktu tidur yang teratur juga memengaruhi daya tangkap, tingkat konsentrasi, hingga daya ingat anak. Saat mengalami kekurangan tidur, anak bakal lebih mudah gusar dan sulit memusatkan perhatian.
"Ketika segala sesuatu dapat diprediksi, kami lebih mungkin mengingatnya," kata Dinning.
Penataan jadwal harian ikut membantu menyeimbangkan ritme sirkadian atau sistem jam biologis alami tubuh selama 24 jam. Ritme internal ini menentukan kapan waktunya tubuh membutuhkan tidur dan asupan makanan.
"Rutinitas yang baik membantu mengatur ritme sirkadian kami, yaitu jam biologis internaltubuh selama 24 jam yang menentukan kapan kami harus tidur dan makan," tutur Dinning.
"Namun, ketika rutinitas berubah dan ritme sirkadian kami terganggu, hal tersebut dapat menyebabkan stres dan kecemasan," tambahnya.
Tidak Harus Menjadi Jadwal yang Kaku
Pola yang teratur bukan berarti seluruh aktivitas anak wajib dikontrol secara mengekang. Orangtua dapat mengawalinya dari hal mendasar seperti menjaga konsistensi jam tidur, bangun pagi, serta waktu makan.
Anak tetap memerlukan ruang dan waktu luang untuk menyalurkan kegemaran, berolahraga, hingga berkumpul bersama kerabat maupun kawan sebaya.
"Jika memungkinkan, bantu anak tetap menjalankan minat, hobi, dan olahraga yang biasa mereka lakukan," ucap Dinning.
Dengan skema harian yang stabil, si kecil memiliki gambaran jelas mengenai rangkaian kegiatan yang akan dilaluinya. Pola kebiasaan ini pun menjadi fondasi lingkungan yang mendukung perkembangan daya pikir, pengontrolan emosi, kualitas tidur, hingga memori anak.