Pabrik Modul Surya Trina Mas Agra di Kendal Siap Dukung Program PLTS 100 GW, Kapasitas 2 GW

Rabu, 02 September 2026 | 08:34:00 WIB

TRENENERGI.COM — Wakil Direktur Utama Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Lokita Prasetya, mengatakan pihaknya optimistis mendukung program PLTS 100 GWp sejak lelang pertama hingga tender berikutnya. DSSA menargetkan peran sebagai mitra strategis yang konsisten sepanjang pengembangan proyek jumbo tersebut.

"Lewat dukungan pasokan modul surya dalam negeri untuk pengembangan proyek PLTS secara berkelanjutan," kata Lokita kepada Katadata, Senin (1/9).

Kapasitas Produksi dan Teknologi Pabrik TMAI

Pabrik TMAI mulai beroperasi pada Juni 2025 dengan nilai investasi lebih dari Rp 1,5 triliun. Fasilitas ini disebut sebagai pabrik sel dan modul surya terintegrasi pertama dan terbesar di Indonesia.

Lokita, yang juga menjabat Wakil Direktur Utama TMAI, mengatakan pabrik ini menggunakan teknologi i-TOPCon Advanced yang mampu menghasilkan panel surya dengan daya hingga 720 Wp per panel dan efisiensi tertinggi 23,2%.

"Pabrik ini telah siap beroperasi dan menggunakan teknologi i-TOPCon Advanced, generasi terbaru yang mampu menghasilkan panel surya dengan daya hingga 720 Wp per panel dan efisiensi tertinggi di kelasnya mencapai 23,2%," ujar Lokita dalam keterangannya pada 19 Juni 2025.

Hilirisasi dan Ekosistem Industri Surya Domestik

Direktur TMAI, Ooi Kok Tiong, menjelaskan keberadaan pabrik ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan modul surya dalam negeri, tetapi juga mempercepat hilirisasi industri dan membangun rantai pasok energi surya di Indonesia. Pengembangannya mencakup industri pendukung horizontal serta rantai produksi vertikal, mulai dari pembuatan wafer, ingot, hingga smelter polisilikon.

"Pabrik ini juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun, menghasilkan sekitar Rp 3,7 triliun pada masa investasi dan Rp 1 triliun per tahun pada masa operasional," kata Ooi Kok Tiong.

Skema Besar PLTS 100 GW

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas total 100 GW dalam kurun dua tahun ke depan. Target ini menjadi langkah besar memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut pembangunan PLTS 100 GW membutuhkan investasi sekitar US$ 73 miliar atau Rp 1.140 triliun. Investasi ini diproyeksikan menghasilkan efisiensi subsidi sekitar Rp 73,9 triliun per tahun.

"Ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih 5,52 juta lapangan kerja," kata Bahlil.

Program ini juga ditargetkan menurunkan emisi sekitar 140 juta ton CO2 per tahun, dengan nilai ekonomi karbon mencapai Rp 6,31 triliun. Dana investasi akan digunakan untuk penggantian pembangkit listrik berbasis diesel, elektrifikasi perdesaan, penguatan jaringan listrik, hingga pengembangan kawasan industri.

Dengan target pembangunan sekitar 50 GW per tahun, percepatan ini setara lompatan hingga 100 kali lipat dibanding tren pembangunan sebelumnya. Skala tersebut menempatkan Indonesia pada jalur ekspansi energi surya yang agresif, dan pabrik TMAI menjadi salah satu penopang utama pasokan modul surya dalam negeri.

Terkini