Laba Bersih PTBA Melonjak 218% Jadi Rp2,65 Triliun di Semester I 2026

Laba Bersih PTBA Melonjak 218% Jadi Rp2,65 Triliun di Semester I 2026

TRENENERGI.COM — Kinerja ini menjadi sinyal pemulihan yang kuat bagi salah satu produsen batu bara pelat merah tersebut. Selain meningkatkan kontribusi dividen ke kas negara, capaian ini juga menunjukkan disiplin efisiensi di tengah gejolak biaya operasional, terutama akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dipicu konflik geopolitik di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026.

Laba Naik 218 Persen, Ditopang Harga Jual yang Adaptif

Kenaikan laba terjadi meski volume penjualan batu bara turun tipis 2% menjadi 21,10 juta ton. Perusahaan berhasil mengompensasi penurunan itu lewat kenaikan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 10% secara tahunan, sejalan dengan reli harga acuan Newcastle yang naik 25% dan indeks ICI-3 sebesar 15%.

“Di tengah momentum penguatan harga batubara global, Perseroan mampu mengoptimalkan peluang pasar melalui strategi penjualan yang adaptif, yang didukung oleh pelaksanaan program efisiensi secara cermat dan tepat sasaran,” ujar Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan dalam laporan ke BEI/OJK.

Strategi itu membuat EBITDA perusahaan mencapai Rp4,27 triliun dengan margin 19%, sementara margin laba bersih berada di angka 12%.

Ekspor Tumbuh 5%, Asia Tenggara Jadi Pasar Utama

Pendorong utama pertumbuhan pendapatan adalah penguatan pangsa pasar internasional. Penjualan ekspor PTBA mencapai 10,33 juta ton, tumbuh 5% dibandingkan 9,85 juta ton pada paruh pertama 2025. Sebaliknya, penjualan domestik justru menyusut 9% menjadi 10,77 juta ton.

Lima negara tujuan ekspor terbesar PTBA hingga Juni 2026 adalah Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand. Komposisi penjualan saat ini hampir berimbang, dengan porsi domestik 51% dan ekspor 49%.

Produksi Turun, tapi Efisiensi Biaya Menyelamatkan Profit

Secara operasional, PTBA mencatat produksi batu bara 19,45 juta ton pada semester pertama 2026, turun 10% dari periode yang sama tahun lalu. Volume angkutan juga terkoreksi 6% menjadi 18,15 juta ton.

Meski begitu, perusahaan berhasil menurunkan nisbah kupas (stripping ratio) dari 6,17 kali menjadi 5,26 kali, atau hemat 15%. Efisiensi ini menahan kenaikan beban pokok pendapatan yang justru turun 2% menjadi Rp17,78 triliun, membantu melawan tekanan biaya BBM yang melonjak 34% menjadi Rp19.503 per liter akibat konflik Selat Hormuz.

Belanja operasional memang naik 13% menjadi sekitar Rp184,84 miliar, namun lonjakan itu tertutup oleh kenaikan kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama. Bagian laba dari anak usaha patungan melesat menjadi Rp438,30 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan Rp209,86 miliar pada semester yang sama tahun sebelumnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index