Pacu Bisnis Data Center SSIA Targetkan Jual 10 Hektare Lahan Karawang

Senin, 07 September 2026 | 04:50:32 WIB
PT Surya Semesta Internusa Tbk.

JAKARTA — Emiten yang terafiliasi dengan grup Djarum, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), memandang bisnis data center sebagai salah satu motor pertumbuhan baru bagi kawasan industri. Hal ini didorong oleh melonjaknya kebutuhan infrastruktur digital akibat pesatnya perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI).

Direktur SSIA Wilson Effendy menyampaikan bahwa permintaan lahan untuk data center kini bermunculan di kawasan industri Karawang maupun Subang. Khusus wilayah Karawang, perseroan membidik penjualan lahan data center seluas kurang lebih 10 hektare hingga penghujung 2026.

"Sampai tahun ini kami memperkirakan permintaan mencapai sekitar 10 ha untuk data center di Karawang" ujarnya dalam paparan publik, Senin (7/9/2026).

Menurut Wilson Effendy, tantangan utama dalam menggarap sektor data center terletak pada kesiapan infrastruktur listrik, air, dan jaringan (network). Ketiga aspek tersebut menjadi syarat mutlak bagi para calon penyewa (tenant).

Untuk area Karawang, pasokan listrik akan didistribusikan melalui PLN, sedangkan kebutuhan air ditangani langsung oleh pengelola kawasan. Wilson Effendy memastikan seluruh kebutuhan dasar tersebut masih sanggup dipenuhi.

Di sisi lain, pengembangan data center di kawasan Subang Smartpolitan masih berada dalam tahap peninjauan oleh calon tenant. SSIA sendiri telah merampungkan tahap pertama proyek infrastruktur kelistrikan dan kini tengah melanjutkan pembangunan ke tahap kedua.

“Permintaan sudah ada untuk data center, tapi mereka sedang mereview. Data center itu cukup rigid, review bisa dari sisi infrastrukturnya, network, kemudian sisi air,” jelasnya.

Pihak SSIA berharap proses evaluasi tersebut dapat membuahkan realisasi proyek secara nyata pada 2027 mendatang. Wilson Effendy menilai tren pertumbuhan teknologi AI bakal menjadi pendorong utama bagi lonjakan kebutuhan data center dalam kurun dua hingga tiga tahun ke depan.

Kondisi tersebut diyakini mampu mengakselerasi permintaan lahan data center di kawasan industri.

“Jujur kami lihat tren kenaikan AI ini sudah pasti akan terjadi dalam 2–3 tahun ke depan dan growth-nya sangat tinggi. Kami percaya permintaan data center dalam dua tahun ke depan akan cukup tinggi untuk kawasan,” katanya.

Oleh karena itu, SSIA kini memfokuskan perhatian untuk memastikan ketersediaan tiga fasilitas utama, yakni listrik, air, dan network, agar sesuai dengan spesifikasi teknis dari para tenant. Selain peluang dari penjualan lahan, SSIA berpotensi mendapatkan dampak positif dari sektor konstruksi.

Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja menuturkan bahwa anak usaha perseroan, PT Nusa Raya Cipta Tbk, saat ini sedang mengikuti proses tender untuk menjadi kontraktor pada salah satu proyek data center skala besar.

“Memang cukup besar, cuma kami belum tahu hasil dari tender tersebut,” ujar Johannes.

Johannes menilai bahwa minat investor terhadap kawasan industri Subang Smartpolitan menunjukkan pergerakan yang positif, meskipun dinamika ekonomi serta geopolitik global masih menyisakan beragam tantangan.

“Di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global, kami bersyukur SSIA masih mendapatkan kepercayaan dari investor global sebagai salah satu tujuan investasi mereka," katanya.

Perseroan terus mempersiapkan fasilitas pendukung yang dibutuhkan agar Subang Smartpolitan tidak hanya sekadar menjadi rumah bagi industri manufaktur, tetapi juga mampu berkembang sebagai pusat industri bernilai tambah tinggi, pusat inovasi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia.

Di samping itu, SSIA mulai memperkuat struktur pendapatan berulang (recurring revenue). Pada semester I 2026, perolehan recurring revenue SSIA menyentuh Rp660 miliar, yang bersumber dari sektor perhotelan (hospitality), penyewaan (rental), perparkiran (parking), hingga perawatan (maintenance).

Penguatan recurring income menjadi langkah strategis perseroan dalam menciptakan pondasi pendapatan yang lebih stabil di luar transaksi penjualan lahan industri.

Sepanjang semester I 2026, SSIA membukukan pendapatan konsolidasian mencapai Rp3,3 triliun, atau melonjak 58,4% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Seiring dengan kenaikan pendapatan, laba bruto perseroan terkerek naik menjadi Rp1,08 triliun, sementara nilai EBITDA menyentuh Rp692,5 miliar dengan margin EBITDA yang menguat signifikan ke angka 20,7%. Perseroan turut membukukan raihan laba bersih sebesar Rp262,6 miliar pada semester I 2026.

Terkini