Langkah Rutin di Rumah Yang Bantu Maksimalkan Perkembangan Otak Anak

Langkah Rutin di Rumah Yang Bantu Maksimalkan Perkembangan Otak Anak
Ilustrasi Kecerdasan Anak.

JAKARTA - Upaya mengoptimalkan potensi tumbuh kembang anak acap kali membuat orang tua sibuk berburu ragam metode pengajaran modern. Padahal, Kunci utama dalam menyokong kecerdasan serta kesiapan belajar anak berada pada kebiasaan harian di rumah.

Aktivitas sederhana yang terkesan sepele justru memegang peranan krusial sebagai pondasi biologis maupun kognitif buah hati.

Medical and Scientific Affairs Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH menerangkan, ada beberapa kebiasaan vital yang sering tak disadari terlewatkan, padahal memberi dampak masif bagi kemampuan fokus serta belajar anak di sekolah.

Lantas, apa saja kebiasaan tersebut? Berikut pemaparannya saat ditemui pada acara diskusi Bebelac bertajuk "Growing Little Minds: The Science Behind Every Child's Potential" di Jakarta.

1. Rutinitas Makan Bersama Satu Meja

Proses belajar anak tidak melulu berlangsung di dalam ruang kelas atau sewaktu membaca buku pelajaran. Kegiatan harian yang paling mendasar seperti makan bersama keluarga terbukti menyimpan dorongan besar bagi perkembangan perilaku dan mental anak.

Mewujudkan momen bersantap bersama memberi ruang bagi anak untuk mengamati sekaligus meniru pola interaksi sosial secara langsung.

"Makan itu adalah perilaku primitif. Jadi, 80 persen tumbuh kembang anak bisa disimulasi lewat proses makan bersama," ujar dr. Ray.

Sayangnya, tradisi ini mulai memudar akibat kepadatan aktivitas orang tua modern atau kebiasaan menyodorkan gawai supaya anak tenang saat makan.

Padahal, menyantap menu yang sama sembari duduk bersama anggota keluarga membuka ruang komunikasi yang hangat sekaligus melatih konsentrasi anak tanpa gangguan perangkat digital.

Praktisi pengasuhan anak, Cynthia, juga menerapkan pola interaksi terbuka di meja makan dengan mengenalkan variasi gizi seimbang secara bijaksana tanpa menerapkan larangan yang kaku.

"Kalau aku itu dari dulu tidak pernah mengategorikan makanan baik dan makanan buruk, tapi (mengatakan) beberapa makanan punya gizi lebih kecil dibanding makanan yang lain," tutur Cynthia.

2. Memenuhi Kebutuhan Serat Harian Anak

Selain kebiasaan sosial di meja makan, pemenuhan nutrisi khusus untuk organ pencernaan memegang peranan tak kalah penting. Banyak orang tua berfokus membatasi asupan karbohidrat atau menambah porsi protein, namun mengabaikan kebutuhan serat bagi ekosistem mikrobiota usus.

"Asupan serat ini yang paling banyak dikesampingkan orangtua, bahkan data penelitian di Indonesia itu lebih dari 50 persen anak Indonesia asupan seratnya kurang," kata dr. Ray.

Defisit asupan serat sanggup memicu gangguan pada saluran cerna yang berdampak langsung terhadap penurunan konsentrasi hingga merosotnya daya kognitif.

Demi menutup celah nutrisi dari sajian makanan keluarga sehari-hari, orang tua dapat memanfaatkan produk nutrisi fortifikasi yang diperkaya prebiotik seperti FOS, GOS, dan Inulin.

Dokter Ray membeberkan, perpaduan serat pangan tersebut membantu memelihara kesehatan saluran cerna agar proses penyerapan nutrisi berjalan optimal.

"Asupan nutrisi yang mengandung prebiotik dan serat pangan, seperti FOS, GOS, dan Inulin dapat mendukung kesehatan saluran cerna dan microbial diversity," jelasnya.

3. Menjaga Kedisiplinan Waktu Tidur Malam

Kebiasaan harian terakhir yang sangat penting adalah kedisiplinan jadwal istirahat malam. Sebagian orang tua menduga bahwa kombinasi stimulasi intensif beserta nutrisi berkualitas sudah cukup untuk melahirkan anak cerdas, sehingga jam istirahat malam kerap terabaikan.

Padahal, tidur malam merupakan siklus biologis yang tak terikat pengganti untuk proses regenerasi sel serta pemulihan kondisi tubuh.

"Tidur itu satu-satunya saat di mana tubuh menghasilkan growth hormone dalam jumlah banyak," terang dr. Ray.

Selain memicu pelepasan hormon pertumbuhan untuk perkembangan fisik serta struktur tulang, istirahat malam yang cukup berguna menetralkan hormon stres yang diserap anak sepanjang hari.

Proses penyerapan mikronutrien vital seperti kalsium maupun vitamin juga meningkat pesat sewaktu anak tidur nyenyak.

"Tidur adalah satu-satunya saat di mana tubuh merilis hormon-hormon stres yang diperoleh anak pada waktu berantem sama teman waktu bermain atau saat tantrum," kata dr. Ray.

Melalui keselarasan antara kebiasaan makan bersama, pemenuhan serat saluran cerna, dan kedisiplinan jam tidur, orang tua dapat membangun pondasi kokoh agar anak siap belajar dan berkembang secara optimal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index