JAKARTA - Anak yang tiba-tiba enggan mengonsumsi makanan tertentu, seperti daging, ayam, atau bahan pangan bertekstur serat, tidak selalu tergolong pemilih makanan.
Perubahan perilaku makan pada anak patut dicermati, khususnya apabila sebelumnya ia terbiasa mengonsumsi santapan tersebut. Situasi ini dapat berkaitan dengan munculnya rasa tidak nyaman saat makanan dikunyah.
Dokter gigi anak Mayapada Hospital, drg. Herawati Kusuma, Sp.KGA, menyebutkan bahwa orang tua perlu menelusuri penyebab anak menghindari makanan bertekstur tertentu.
"Pertama kami lihat dulu memang anak ini enggak terbiasa makan yang teksturnya seperti berserat-serat gitu atau bagaimana. Kemudian dilihat juga kondisi giginya apa ada gigi yang berlubang," ujar Hera.
Makanan Terselip Bisa Bikin Anak Tak Nyaman
Hera menerangkan, makanan berserat rentan terselip pada area gigi yang bermasalah. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak.
"Kalau ada makan yang kayak keselip-selip kayak jeruk, itu dia masuk ke situ kadang-kadang juga menimbulkan rasa tidak nyaman," katanya.
Rasa tidak nyaman itu bisa mendorong anak mulai menghindari jenis hidangan tertentu.
"Jadi anak menghindari makan kayak, ya itu tadi serat jeruk, makan daging-daging atau ayam gitu," terang Hera.
Menurutnya, kesehatan gigi anak perlu diperiksa untuk memastikan keberadaan masalah yang mengganggu proses mengunyah.
"Pertama mungkin periksa dulu giginya ada enggak yang lubang," imbuhnya.
Hera turut mengingatkan bahwa gigi berlubang kerap tidak mudah dideteksi sekadar melalui permukaan luar. Ceruk lubang bisa saja berada di bagian yang sulit terlihat.
"Berlubang tuh bukan hanya berlubang terlihat dari atas, kadang di sela-selanya juga ada lubang itu enggak kelihatan," jelasnya.
Oleh karena itu, pergeseran kebiasaan makan dapat menjadi alarm penting, terutama jika anak berulang kali menolak jenis makanan tertentu akibat merasa tidak nyaman.
Waspada Lubang Gigi Semakin Dalam
Gigi berlubang yang dibiarkan tanpa penanganan dapat mengalami kerusakan fatal yang kian dalam karena jaringan gigi tidak mampu memulihkan diri secara alami.
Hera memaparkan bahwa saat celah lubang semakin dalam, kuman dapat menembus saluran akar gigi.
"Kalau misalkan ada lubang gigi itu enggak kayak jaringan tubuh kami yang lain. Kalau ada rusak bisa memperbaiki sendiri. Kalau gigi sudah lubang ya dia akan lubang terus ya. Makin dalam makin dalam," paparnya.
Apabila bakteri telah menjangkau area dalam hingga ke ujung akar, kondisi tersebut berisiko berkembang menjadi infeksi.
"Bakteri itu kalau misalkan lama di saluran gigi, entar ada saluran akar, kalau bakterinya sudah mencapai saluran akar sampai ke ujung akar dia biasanya menghasilkan nanah jadi infeksi," ucap Hera.
Infeksi pada area gigi berpotensi menimbulkan pembengkakan di gusi, yang bahkan dapat kambuh secara berulang jika akar masalahnya tidak dituntaskan.
"Nah, infeksi itu kalau enggak dirawat ya biasanya dia muncul bengkak di gusi. Kemudian sewaktu dia kempes, bengkak lagi, kempes lagi," tambahnya.
Atas dasar itu, orang tua disarankan tidak sekadar memantau habis atau tidaknya porsi makan anak. Jenis makanan yang ditolak serta reaksi anak saat mengunyah merupakan informasi krusial.
Jika anak terus-menerus menolak hidangan seperti daging atau ayam, orang tua perlu memeriksa adanya keluhan di dalam mulut.
"Jadi memang sebaiknya dibawa ke dokter gigi dulu. Kalau memang ada masalah lubang gigi, sebaiknya dirawat," pungkas Hera.