JAKARTA — Produsen Tolak Angin, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) akhirnya angkat bicara soal melemahnya performa keuangan perusahaan sepanjang paruh pertama 2026.
Dalam kurun waktu enam bulan pertama 2026 tersebut, catatan pendapatan maupun laba bersih perseroan terpantau merosot hingga dua digit.
Direktur Keuangan Sido Muncul, Budiyanto, menjelaskan bahwa penurunan omzet dan laba bersih perusahaan disebabkan oleh penyesuaian stok produk di tingkat distributor alias sell-in.
Sejumlah distributor Sido Muncul mengalami penumpukan barang, sehingga manajemen mengambil tindakan untuk menahan sementara distribusi barang.
Budiyanto memaparkan jika jumlah persediaan terlalu menumpuk, hal itu bakal mempersempit kapasitas ruang penyimpanan bagi jajaran produk baru perusahaan. Oleh sebab itu, kebijakan penahanan pasokan dijalankan guna menyeimbangkan kembali volume persediaan.
”Sehingga kami menganggap stok ini berada di level yang terlalu tinggi dan tidak sehat untuk distributor-distributor kami. Saat itu dari Februari—Mei, distributor yang mengalami kelebihan stok, kami memutuskan untuk tidak melakukan pengiriman,” katanya dalam Public Expose Live 2026, Rabu (9/9/2026).
Walau demikian, Budiyanto menegaskan bahwasanya realisasi sell-out atau transaksi dari jaringan distributor langsung menuju pelanggan akhir tidak mencatatkan penurunan.
Budiyanto merujuk data riset Nielsen yang menunjukkan Sido Muncul masih menguasai pangsa pasar hingga 71 persen.
Hanya saja, angka penjualan sell-out tersebut memang tak tercatat secara langsung di dalam laporan keuangan perseroan. Faktor inilah yang memicu penurunan performa pendapatan serta laba bersih perseroan pada tahun ini.
”Produk-produk di distributor sudah kembali ke level yang sehat dan kami perkirakan untuk bulan Juni dan seterusnya itu permintaan sudah kembali normal dan akan mencerminkan langsung permintaan akhir dari konsumen kami. Diharapkan di Q3 atau Q4 penjualan akan kembali normal,” tegas Budiyanto.
Untuk rentang periode Januari hingga Juni 2026, Sido Muncul tercatat membukukan total omzet Rp1,46 triliun. Angka tersebut menyusut 19,80 persen year-on-year (YoY) dari nilai sebelumnya Rp1,82 triliun.
Lini jamu herbal dan suplemen tercatat mengalami penurunan paling tajam, yang mana hanya mengumpulkan perolehan Rp638,85 miliar sepanjang semester I/2026, berbanding Rp1,07 triliun pada kurun yang sama di 2025.
Kondisi ini membuat laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Sido Muncul terkoreksi 44,43 persen YoY menjadi Rp333,65 miliar per Juni 2026, dari sebelumnya Rp600,46 miliar pada periode yang sama 2025.