BPKH

BPKH Ajak Mahasiswa Unand Rencanakan Ibadah Haji Sejak Usia Muda

BPKH Ajak Mahasiswa Unand Rencanakan Ibadah Haji Sejak Usia Muda
BPKH Ajak Mahasiswa Unand Rencanakan Ibadah Haji Sejak Usia Muda

JAKARTA -  Di tengah antrean panjang calon jamaah haji Indonesia, isu regenerasi menjadi perhatian serius. 

Banyak masyarakat masih memandang ibadah haji sebagai perjalanan spiritual yang identik dengan usia lanjut. Padahal, kesiapan fisik dan finansial justru lebih optimal saat seseorang berada di usia produktif. 

Melihat kondisi tersebut, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengambil langkah strategis dengan menggandeng kalangan kampus untuk mengedukasi generasi muda.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menggandeng Universitas Andalas (Unand) dalam upaya mendorong percepatan regenerasi jamaah haji Indonesia melalui program edukasi interaktif BPKH Insight bertajuk Muda Naik Haji.

"Ada paradigma bahwa haji itu urusan orang tua atau pensiunan. Padahal untuk naik haji dibutuhkan istita'ah, kemampuan keuangan dan fisik yang baik dimana hal itu ada di usia produktif," kata anggota Badan Pelaksana BPKH RI Harry Alexander.

Menurut dia, haji pada dasarnya merupakan ibadah fisik yang membutuhkan kemampuan kesehatan dan finansial yang justru dimiliki pada usia produktif, sehingga masih kuatnya anggapan di masyarakat bahwa ibadah haji identik dengan usia lanjut (lansia) tidak tepat.

Edukasi Kampus dan Peran Mahasiswa

Terkait langkah BPKH yang menggandeng lembaga pendidikan khususnya melalui kegiatan-kegiatan di kampus, termasuk Unand, ia berharap mahasiswa dapat menjadi agen literasi keuangan haji terutama dalam lingkup lingkungan sekitarnya.

Kampus dinilai sebagai ruang strategis untuk membangun kesadaran sejak dini. Mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga pemahaman perencanaan keuangan jangka panjang. 

Dengan pendekatan edukatif dan interaktif, program BPKH Insight diharapkan mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap perencanaan ibadah haji.

Ia menyampaikan BPKH pada dasarnya menyoroti pola konsumsi Generasi Z yang cenderung menghabiskan uang, atau pengeluaran hanya untuk sekadar gaya hidup.

Oleh karena itu literasi keuangan yang diberikan kepada generasi muda diharapkan menjadi paradigma baru Generasi Z untuk mulai memikirkan hal yang lebih membangun, salah satunya naik haji.

Menabung dari Kebiasaan Sederhana

"Contohnya, kalau ditabung dengan sehari mengurangi satu kali ngopi saja, dalam dua tahun bisa terkumpul Rp25 juta," ucapnya.

Ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan haji bukan hal mustahil bagi anak muda. Dengan konsistensi dan disiplin, kebiasaan kecil dapat berubah menjadi langkah besar menuju pendaftaran haji. 

Edukasi seperti ini penting agar generasi muda memahami bahwa kesiapan finansial bisa dibangun sejak awal, bukan menunggu usia senja.

Secara umum ia menjelaskan DPR RI bersama pemerintah dan BPKH telah menetapkan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2026 sekitar Rp87 juta. 

Dari jumlah tersebut Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan jamaah sekitar 68 persen atau Rp54 juta. Sementara 32 persen sisanya yakni setara Rp34 juta disubsidi melalui nilai manfaat hasil investasi BPKH.

"Tahun ini nilai manfaat investasi yang disalurkan BPKH mencapai Rp12,1 triliun dengan rinciannya Rp8 triliun dialokasikan bagi jamaah yang berangkat dan Rp4,4 triliun disalurkan ke rekening virtual jamaah daftar tunggu," jelas dia.

Paparan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pengelolaan dana haji berperan dalam meringankan beban jamaah. Nilai manfaat investasi menjadi komponen penting yang menopang keberlangsungan sistem pembiayaan haji nasional.

Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, BPKH tidak hanya menyasar peningkatan literasi keuangan, tetapi juga memperluas pemahaman tentang tata kelola dana haji.

Generasi Z diharapkan tidak sekadar menjadi calon jamaah, melainkan juga masyarakat yang memahami mekanisme pembiayaan dan investasi syariah yang menopang penyelenggaraan ibadah tersebut.

Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan jamaah haji Indonesia. 

Dengan semakin banyak anak muda yang mendaftar lebih awal, peluang keberangkatan pada usia yang masih prima akan lebih besar. Kondisi fisik yang kuat tentu mendukung kelancaran rangkaian ibadah yang menuntut stamina.

Di sisi lain, perubahan paradigma tentang usia ideal berhaji menjadi tantangan tersendiri. Selama ini, sebagian masyarakat merasa haji adalah puncak perjalanan hidup yang dilakukan setelah seluruh kewajiban duniawi selesai. 

Padahal, konsep istita'ah menekankan pada kemampuan, baik secara fisik maupun finansial, tanpa membatasi usia selama syarat terpenuhi.

Program BPKH Insight bertajuk Muda Naik Haji mencoba menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan yang relevan bagi anak muda. Diskusi interaktif, pemaparan data, hingga simulasi perencanaan keuangan menjadi bagian dari strategi komunikasi yang lebih membumi.

Dengan demikian, kolaborasi antara BPKH dan Unand bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya membangun kesadaran kolektif. Regenerasi jamaah haji membutuhkan peran banyak pihak, termasuk institusi pendidikan dan mahasiswa sebagai agen perubahan di lingkungannya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index