JAKARTA - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) memberikan sinyal kuat bahwa Agen Pemegang Merek (APM) otomotif akan melakukan penyesuaian harga jual mobil pada bulan ini.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut.
"Dampaknya pasti setelah sekian lama akan ada adjustment, yang kemungkinan dilakukan bulan ini. Ini baru informasi dari teman-teman APM. Karena sudah beberapa bulan nilai tukar ini menurun terus, sementara industri otomotif tidak mungkin bebas sama sekali dari faktor komponen impor," ujar Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara, Sabtu (13/6/2026).
Kukuh menjelaskan bahwa meskipun industri otomotif nasional terus berupaya meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), ketergantungan terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi.
Bahan baku dasar manufaktur seperti baja dan plastik masih didatangkan dari luar negeri dan ditransaksikan menggunakan dolar AS.
Kenaikan harga diprediksi akan menyasar seluruh segmen kendaraan, mulai dari Low Cost Green Car (LCGC), kendaraan listrik (EV), hingga mobil hybrid.
Tingkat kenaikan akan bervariasi, di mana segmen mobil premium berpotensi mengalami lonjakan paling signifikan.
Kukuh juga menyoroti dilema yang dihadapi masyarakat pembeli segmen LCGC yang daya belinya tengah terhimpit, meski segmen ini memiliki volume penjualan yang besar.
Tekanan bagi para APM ini dipicu oleh kondisi nilai tukar rupiah yang terus merosot sejak awal tahun 2026 dan sempat menyentuh rekor terlemah di level Rp18.188 per dolar AS.
Terkait upaya kemandirian industri, Kementerian Perindustrian mencatat peta capaian TKDN sebagai berikut:
LCGC: Memiliki pendalaman struktur manufaktur terdalam dengan angka TKDN berkisar antara 80% hingga 85%.
Mobil Hybrid (HEV): Rata-rata kandungan lokal berada di rentang 40% hingga 60%.
Kendaraan Listrik (EV/BEV): Sesuai Perpres No. 79/2023, batas minimum TKDN ditetapkan sebesar 40% untuk periode hingga akhir 2026, dengan target mencapai 80% pada tahun 2030 melalui lokalisasi komponen baterai.