Memahami Gejala Gatal Psikogenik Akibat Stres Berkepanjangan

Memahami Gejala Gatal Psikogenik Akibat Stres Berkepanjangan
Ilustrasi Gatal.

JAKARTA - Keterkaitan antara pikiran serta kondisi fisik manusia terjalin sangat kuat. Selain memicu indikasi emosional, stres dan rasa cemas kerap bermanifestasi secara fisik.

Gejala tersebut muncul mulai dari rasa lelah yang mendalam, gangguan sistem pencernaan, hingga sakit kepala yang mengganggu kelancaran aktivitas harian.

Namun, tekanan mental ini rupanya juga bisa menimbulkan reaksi tidak terduga pada kulit, yakni berupa timbulnya sensasi rasa gatal yang sangat berlebihan.

Kondisi tersebut dikenal luas sebagai gatal psikogenik, di mana faktor psikologis secara terus-menerus memperparah rasa tidak nyaman hingga memicu keinginan untuk menggaruk.

"Bagi sebagian orang, stres dan kecemasan dapat menyebabkan gatal berlebihan, yang mungkin bermanifestasi dalam bentuk ruam, gatal-gatal, eksim, psoriasis, dan jerawat," jelas ahli dermatologi klinis dan peneliti di myvitiligoteam.com, Enrizza P. Factor, M.D.

Berdasarkan riset dalam jurnal Neuroscience and Behavioral Reviews, rasa gatal akan mengaktifkan pusat sensorik, motorik, hingga emosi di dalam otak.

Hal inilah yang menciptakan siklus garuk dan cemas secara berulang, yang pada akhirnya berdampak signifikan terhadap penurunan kualitas hidup seseorang.

"Peningkatan kadar kortisol (hormon stres) dapat menyebabkan peningkatan peradangan, yang mengubah cara kerja kelenjar adrenal dan juga dapat menyebabkan kulit gatal," ungkap direktur dermatologi di bowtiedlife.com, Cheryl Rosen, M.D.

Publikasi dalam jurnal Clinical Dermatology membagi masalah ini ke dalam tiga kategori utama, yaitu masalah kulit kronis yang merusak stabilitas mental penderitanya.

"Kecemasan dan depresi adalah konsekuensi psikiatri yang paling umum dari gatal," ucap dr. Factor.

Kategori kedua berkaitan erat dengan tekanan psikososial yang memperparah penyakit kulit bawaan. Berbagai masalah hidup berpotensi memicu kekambuhan gejala di kulit.

Catatan American Academy of Dermatology menyebutkan kondisi ini dapat terjadi meskipun penyakit utama pasien murni bersifat genetik atau bawaan.

Kategori terakhir adalah saat gangguan jiwa menjadi pemicu langsung munculnya rasa gatal. "Orang yang lebih mungkin mengalami gatal akibat stres adalah orang yang menderita depresi, OCD, dan skizofrenia," tutur dr. Rosen.

"Ini karena kondisi kesehatan mental ini sering menyebabkan orang merasa sangat cemas dan stres, yang dapat menyebabkan mereka menggaruk kulit secara berlebihan," lanjut dia.

Saat panik memuncak, dr. Factor memaparkan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi sistem saraf dan memicu gejala sensorik seperti rasa terbakar atau gatal pada kulit.

Sensasi ini dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, mulai dari area lengan, kaki, wajah, hingga kulit kepala, dengan atau tanpa tanda fisik yang terlihat jelas.

Untuk memastikan apakah beban pikiran adalah penyebab keluhan gatal, dr. Rosen menyarankan agar kita rutin mencatat dan mengamati pola kejadiannya.

Jika tidak ditemukan penyebab medis setelah serangkaian tes, tenaga kesehatan umumnya akan merujuk pasien untuk menemui psikiater guna mendapatkan terapi.

"Seorang terapis dapat memberikan terapi modifikasi perilaku dan strategi lain untuk mengurangi kecemasan," terang dr. Factor.

"Penting juga untuk mempertahankan pola makan yang sehat, tidur nyenyak setiap malam, dan berolahraga secara teratur" lanjut dia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index