JAKARTA - Adanya tren olahraga lari belakangan ini membuat banyak kalangan masyarakat mulai tertarik menantang ketahanan diri untuk mengikuti ajang marathon.
Aktivitas fisik ini memang dinilai sangat bagus untuk menjaga tingkat kebugaran, namun pelaksanaannya tetap wajib disesuaikan dengan batas kemampuan tubuh masing-masing.
Satu di antara jenis risiko kesehatan serius yang rawan mengintai ketika organ tubuh dipaksa bekerja terlampau berat adalah serangan rhabdomyolysis.
Gangguan kesehatan ini umumnya terjadi di saat jaringan otot rangka mengalami kerusakan berat, lalu melepaskan senyawa kimia tertentu ke dalam sistem aliran darah.
Sirkulasi zat asing tersebut lambat laun akan memberikan tekanan berat pada kinerja organ ginjal dan memicu komplikasi medis lanjutan yang berbahaya.
Menyadur rilis dari Cleveland Clinic, rhabdomyolysis dikategorikan sebagai kondisi medis akut yang dipicu oleh kerusakan masif pada struktur jaringan otot.
Di saat sel otot mengalami kehancuran, komponen protein mioglobin beserta zat elektrolit akan merembes keluar lalu menyusup ke dalam jalur saringan darah.
Jika kandungan mioglobin tersebut menumpuk dalam volume yang banyak, maka stabilitas sistem kerja organ ginjal dipastikan bakal terganggu secara drastis.
Bagi kasus yang penanganannya terlambat, rhabdomyolysis bahkan terbukti mampu memicu cedera ginjal akut atau dikenal sebagai acute kidney injury.
Oleh sebab itu, para pelari yang turun dalam perlombaan jarak jauh diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan mereka terhadap ancaman gangguan kesehatan ini.
Kewaspadaan tinggi wajib ditanamkan terutama jika mereka berlari tanpa persiapan fisik yang matang, mengalami dehidrasi, atau abai pada sinyal kelelahan.
Kemunculan indikasi gejala dari rhabdomyolysis ini juga dilaporkan tidak selalu langsung dapat dirasakan seketika oleh pelari saat sedang beraktivitas.
Sejumlah tanda klinis umumnya baru mulai nampak ke permukaan dalam rentang waktu satu hingga tiga hari pasca-terjadinya kerusakan pada jaringan otot.
Beberapa jenis keluhan fisik yang wajib diwaspadai di antaranya adalah rasa lelah ekstrem, nyeri otot, mual, dehidrasi, hingga warna urine menggelap.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Tunggul Situmorang, menjelaskan bahwa keluhan ini rentan menyerang akibat pemaksaan fisik.
"Dia kelelahan akut. Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," kata dia, dikutip dari detikHealth, Rabu (24/6).
Tunggul menambahkan, penanganan terhadap rhabdomyolysis harus diupayakan secepat mungkin agar kondisinya tidak memburuk menjadi penyakit cedera ginjal akut.
"Acute kidney injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.
Ia menguraikan bahwa fenomena perubahan warna pada urine pasien tersebut berkaitan erat dengan kontaminasi zat mioglobin dari jaringan sel otot yang rusak.
"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah, kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," ujarnya.
Bagi komunitas pelari, hadirnya indikasi seperti keletihan ekstrem, nyeri otot tidak wajar, pusing, hingga penurunan intensitas buang air kecil jangan diabaikan.
Keberhasilan menyentuh garis finis memang menyajikan kepuasan batin tersendiri, namun memaksakan fisik melewati batas toleransi bisa berakibat fatal.
Menurut pandangan Tunggul, kasus rhabdomyolysis ini paling sering diketemukan ketika tubuh dipaksa memeras keringat tanpa ditunjang pemanasan memadai.
"Salah satu penyebabnya sebenarnya adalah kalau pemanasannya itu tidak gradual ya," kata dia.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kelompok masyarakat yang menduduki tingkat risiko paling rentan adalah para pelari pemula yang belum beradaptasi.
Sering kali diketemukan kasus di mana seseorang langsung mematok intensitas olahraga yang tinggi tanpa memberikan jeda bagi tubuh untuk menyesuaikan diri.
"Atau mungkin dia merasa bahwa sudah biasa, dia langsung tancap begitu. Jadi bisa dihindari dengan pemanasan yang gradual sebenarnya pada awalnya. Tapi memang itu [rhabdo terjadi] terutama pada pemula," ujarnya.
Meskipun demikian, ancaman rhabdomyolysis ini sejatinya tidak hanya memburu kelompok pelari amatir atau masyarakat yang baru memulai olahraga.
Kalangan atlet profesional yang sudah sarat pengalaman sekalipun tetap berpotensi mengalaminya apabila mendadak melakukan aktivitas fisik ekstrem di luar batas.
"Kemarin itu ada itu, sudah pelari marathon yang sudah berpengalaman sampai 42K, tetapi tetap saja bisa terjadi. Tetapi memang dasarnya ya itu, sangat eksesif, sangat berat, mendadak," katanya.
Tunggul juga menggarisbawahi bahwa potensi bahaya sejenis juga berpeluang muncul pada rumpun olahraga modern lain yang menguras tenaga otot, seperti hyrox.
"Menurut saya, itu [kemarin] termasuk risk juga itu. Kan itu berarti penggunaan otot yang masif juga," ujarnya.
Maka dari itu, kecakapan dalam mengukur batas kekuatan diri serta kepekaan dalam membaca sinyal kelelahan tubuh menjadi kunci krusial saat berolahraga.
Sisi positifnya, gangguan rhabdomyolysis yang terdeteksi serta ditangani secara medis dengan cepat pada umumnya masih memiliki peluang untuk disembuhkan.
Tunggul menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan pemulihan total pasien akan sangat bergantung pada level keparahan dari cedera ginjal yang diderita.
"Misalnya AKI grade 1 dan 2, itu pasti reversible (bisa disembuhkan) tanpa mungkin dialisis. Tapi kalau sudah grade 3, di AKI itu, itu sudah harus dialisis," jelas Tunggul.
Ia kembali menegaskan bahwa parameter kecepatan pasien dalam memperoleh tindakan medis yang tepat akan berbanding lurus dengan peluang pulihnya fungsi ginjal.