JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan bahwa pemanfaatan tetes tebu sebagai bahan baku pengembangan bahan bakar nabati (BBN) jenis bioetanol diarahkan agar tidak sampai mengganggu ketersediaan pangan nasional.
“Tetes tebu saat ini produksinya berlebih, bahkan sebagian diekspor,” ujar Anggota DEN Unggul Priyanto saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.
Unggul menerangkan, masukan terkait penggunaan tetes tebu merupakan bagian dari langkah pemerintah guna mencukupi pasokan baku bioetanol tanpa mengorbankan stabilitas pangan.
Menurut penjelasannya, tetes tebu tidak bersinggungan langsung dengan konsumsi pangan masyarakat lantaran statusnya sebagai produk sampingan atau limbah dari olahan pabrik gula. Selain tetes tebu, terdapat beragam variasi bahan baku nonpangan lainnya yang potensial, seperti sorgum dan nira aren.
“Bahkan untuk (pengembangan bioetanol) jangka panjang juga dengan memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami, sekam, tandan kosong sawit,” ucap Unggul.
Kendati demikian, untuk mengoptimalkan penggunaan limbah hasil pertanian tersebut, Unggul menyebutkan bahwa pemerintah masih harus menjalankan studi mendalam.
“Ini masih jangka panjang, perlu riset lebih lanjut,” ujar dia.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto merencanakan penambahan fasilitas pabrik etanol di dalam negeri, yakni dengan membangun sekitar 30 hingga 50 pabrik guna mengakselerasi pengembangan bahan bakar minyak (BBM) berbasis campuran etanol.
Presiden Prabowo sebelumnya sempat mengutarakan bahwa Indonesia kini telah mampu melakukan formulasi pencampuran bensin dengan etanol hingga kadar 20 persen atau E20.
Kepala Negara turut mencontohkan keberhasilan India yang sudah menerapkan skema E20 serta Brasil yang telah sukses menembus tingkat E100.
Berdasarkan capaian dari kedua negara tersebut, Presiden optimistis Indonesia sanggup memenuhi target untuk merealisasikan pemanfaatan bahan bakar tingkat E20.