Prospek Reli Saham Konglomerasi Ditopang Sektor Data Center di 2026

Prospek Reli Saham Konglomerasi Ditopang Sektor Data Center di 2026
Ilustrasi Pertemuan Para Pengusaha Membahas Tentang Saham Konglomerasi.

JAKARTA - Tema pertumbuhan bisnis seperti data center, energi, hilirisasi, dan infrastruktur diproyeksikan menjadi pendorong utama reli saham konglomerasi pada semester II-2026.

Analis menilai emiten yang mengantongi katalis ekspansi secara jelas berpeluang melanjutkan tren penguatan di tengah kondisi pasar modal yang makin selektif.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Wisnubroto menyampaikan bahwa lonjakan saham kelompok usaha belakangan ini ditopang oleh masuknya modal asing, rotasi ke saham big caps, serta katalis internal.

"Kenaikan saham konglomerasi saat ini paling dominan didorong oleh kombinasi arus dana asing, rotasi ke big caps likuid, dan katalis spesifik emiten," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (26/7/2026).

Menurut Rully, performa kelompok usaha kini sangat bergantung pada kekuatan fundamental, di mana perbedaan kinerja dipengaruhi oleh kualitas laba dan komposisi portofolio aset.

Grup bisnis yang menguasai ekosistem data center, energi, hilirisasi, serta infrastruktur dinilai jauh lebih atraktif ketimbang emiten defensif yang minim katalis rerating valuasi.

Kendati demikian, Rully memperingatkan bahwa valuasi jajaran saham konglomerat besar saat ini tergolong mahal sehingga potensi penguatan harga saham menjadi terbatas jika tanpa pertumbuhan laba.

"Pertanyaan utamanya bukan lagi murah atau mahal secara absolut, tetapi apakah pertumbuhan earnings per share [EPS] hingga akhir 2026 cukup cepat untuk membenarkan harga saham saat ini," katanya.

Sementara itu, Equity Research Analyst Simpan Asset Management Genandy Amiharja menilai koreksi harga terkini membuat valuasi emiten konglomerasi kembali rasional dibanding periode reli sebelumnya.

Harapannya, narasi ekspansi yang ditopang aksi korporasi non-organik seperti akuisisi mulai tercermin pada laporan keuangan, bukan sebatas dorongan ekspektasi pasar semata.

"Harapannya, story pertumbuhan yang selama ini melekat pada saham-saham konglomerasi, yang kerap ditopang oleh pertumbuhan non organik seperti akuisisi dan aksi korporasi, mulai lebih tercermin pada kinerja fundamentalnya, bukan sekadar valuasi yang dimotori oleh ekspektasi," terangnya.

Genandy menambahkan bahwa bobot saham konglomerasi masih mendominasi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga berpotensi menjadi pendorong indeks hingga akhir tahun.

Namun, ia menggarisbawahi bahwa pergerakan harga saat ini masih berdurasi jangka pendek dan sangat sensitif terhadap arah aliran dana investor.

"Secara struktural, bobot indeks saham konglomerasi masih cukup besar sehingga pergerakan saham-saham tersebut dapat menggerakkan IHSG secara keseluruhan. Namun, saat ini kami masih melihat pergerakan saham secara keseluruhan masih bersifat jangka pendek dan selektif sambil terus mencermati ke mana arus dana mengalir," ujarnya.

Pihaknya mengaku masih mengambil posisi wait and see seraya mencermati arah regulasi pemerintah yang berdampak pada kinerja keuangan dan valuasi sektor terkait.

"Saat ini kami masih dalam posisi wait and see, melihat bagaimana arah kebijakan makro dan regulasi akan berpihak pada sektor-sektor tersebut, yang pada akhirnya tercermin di laporan keuangan dan valuasi masing-masing," terangnya.

Untuk paruh kedua 2026, Mirae Asset Sekuritas mengunggulkan Grup Salim, Barito Group, dan PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) milik Sinarmas sebagai kelompok dengan katalis terkuat.

Grup Salim unggul pada ekosistem data center, Barito ditopang ekspansi energi baru terbarukan serta hilirisasi, sedangkan Sinarmas disokong integrasi bisnis energi dan infrastruktur digital.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index