Ekspor Makanan Olahan RI US$6,25 Miliar di 2025, Kemendag Dorong Kualitas demi Kejar Thailand-Vietnam

Ekspor Makanan Olahan RI US$6,25 Miliar di 2025, Kemendag Dorong Kualitas demi Kejar Thailand-Vietnam
Ekspor Makanan Olahan RI US$6,25 Miliar di 2025, Kemendag Dorong Kualitas demi Kejar Thailand-Vietnam

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mengakui ketertinggalan tersebut dalam Indonesia Food and Beverage (F&B) Trade Promotion Forum di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa (11/8/2026). Menurutnya, sektor makanan dan minuman (mamin) tetap menjadi pilar strategis penopang pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus garda terdepan daya saing produk di pasar internasional.

"Kita harus bersikap jujur dan objektif juga dalam melihat posisi Indonesia karena di tahun 2025 nilai ekspor makanan olahan kita mencatat angka sebesar US$6,25 miliar, dan ini menempatkan Indonesia pada peringkat keempat ketika kita berbicara mengenai ASEAN," kata Roro.

Jarak Lebar dengan Thailand, Peluang di Pasar ASEAN

Selisih nilai ekspor dengan Thailand mencapai lebih dari dua kali lipat, menunjukkan pekerjaan rumah besar bagi industri pengolahan dalam negeri. Meski tertinggal dari tiga negara, Roro menilai posisi Indonesia yang masuk lima besar ASEAN tetap perlu diapresiasi.

"Kita saat ini berada di bawahnya Thailand, jadi kalau Thailand itu US$17,69 miliar, Vietnam di angka US$8,89 miliar, dan juga Singapura di angka US$6,5 miliar. Di satu sisi kita juga harus apresiasi terhadap diri sendiri karena kita berada di posisi yang cukup strategis kalau bisa dibilang kita top five lah kalau berbicara mengenai ASEAN," ujarnya.

Capaian negara tetangga disebutnya menjadi bahan pembelajaran. Indonesia dinilai punya potensi besar menembus pasar global apabila aspek kesiapan industri, standardisasi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan diperkuat.

"Kalau ibarat mereka bisa kenapa Indonesia tidak bisa. Ada hal-hal tentunya yang perlu kita persiapkan bersama dan semangat kolaborasi dan gotong royong itulah yang dibutuhkan," tuturnya.

Target Ekspor 2026 dan Peran Sektor Mamin

Secara keseluruhan, kinerja ekspor nasional masih menunjukkan tren pertumbuhan. Pada Juni 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,46 miliar atau tumbuh 8,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, ekspor Januari—Juni 2026 tercatat US$140,81 miliar, naik 4,13% secara tahunan.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor 2026 di kisaran 5,3%—6,9% dengan proyeksi nilai tembus US$315 miliar. Industri F&B menjadi salah satu sektor andalan untuk mencapai target tersebut.

"Kami menyadari bahwa F&B ini adalah sektor yang cukup strategis yang tidak hanya menjadi pilar penting dalam penopang pertumbuhan ekonomi nasional kita secara keseluruhan, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam memperkuat daya saing dan citra produk Indonesia di pasar global," kata Roro.

Jembatan Pemerintah: Dari Business Pitching hingga Transaksi

Kemendag menegaskan peran pemerintah sebagai fasilitator, bukan sekadar regulator. Penguatan pasar dalam negeri tetap berjalan, namun kualitas produk didorong agar semakin mendunia.

"Pasar dalam negeri ini penting sekali. Tapi di sisi lain juga bagaimana kualitas produk ini juga semakin mendunia. Nah maka pemerintah hadir sebagai jembatan, we are a bridge for you. Dan harapannya kita bisa menjadi jembatan yang baik untuk para pelaku usaha," tuturnya.

Untuk membuka akses pasar, Kemendag mengandalkan jaringan perwakilan dagang di lebih dari 30 negara melalui Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC). Kegiatan business pitching rutin digelar untuk mempertemukan produk Indonesia dengan calon pembeli luar negeri.

Proses tersebut ditargetkan berlanjut ke business matching, negosiasi harga, hingga penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berujung pada transaksi perdagangan riil. Dengan ekosistem ini, pemerintah berharap posisi ekspor mamin Indonesia bisa merangsek naik ke jajaran teratas ASEAN dalam beberapa tahun ke depan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index