JAKARTA - PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) merancang tiga jurus strategi utama guna melipatgandakan performa kinerja sekaligus mengakselerasi transformasi bisnis menjadi korporasi fast-moving consumer goods (FMCG) berjangkauan regional.
Direktur Utama COCO Sugianto Soenario mengutarakan bahwa ketiga pendekatan tersebut meliputi penguatan sinergi bisnis serta portofolio produk bersama Bibica Corporation dan Momogi Group.
Langkah berikutnya mencakup pemantapan lini bisnis inti produk cokelat lewat merek Schoko, D’Lanier, serta Winfil, ditambah optimasi daya tampung pabrik baru dan efisiensi operasional demi menyokong pemulihan margin.
“Strategi ini diharapkan dapat memperluas portofolio produk, memperkuat skala bisnis, sekaligus membuka akses pasar baru bagi perseroan, termasuk pasar konsumen Vietnam melalui jaringan Bibica,” ujar Sugianto dalam siaran pers, Senin (10/8/2026).
Lewat sinergi yang terjalin bersama Bibica Corporation dan Momogi Group, COCO bakal membuka akses ke portofolio merek FMCG serta pasar konsumen Vietnam melalui jaringan distribusi Bibica.
Rencana eksekusi tersebut bakal dijalankan secara bertahap sesuai rentang waktu yang telah dipetakan oleh perseroan.
Di samping itu, pihak perseroan bakal memperkokoh lini bisnis utama cokelat melalui jenama Schoko, D’Lanier, beserta Winfil.
Penguatan portofolio ini diharapkan sanggup mengamankan posisi bisnis inti perseroan sembari memperluas ragam opsi pilihan produk bagi para konsumen.
Ditinjau dari ranah manufaktur, COCO bakal memaksimalkan kapasitas operasional pabrik baru serta melanjutkan aneka inisiatif efisiensi operasional.
Langkah strategis ini ditujukan untuk menggenjot utilisasi kapasitas sekaligus menopang langkah pemulihan margin perseroan secara berkelanjutan.
Rangkaian strategi tersebut menjadi bagian utuh dari transformasi Win&Co Group guna memperluas portofolio produk, memperkuat pilar skala bisnis, serta meluaskan jangkauan pasar hingga skala regional.
Di tengah bergulirnya proses transformasi tersebut, COCO sukses mencatatkan pertumbuhan angka pendapatan pada rentang semester I/2026.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan perseroan, pencapaian penjualan menembus angka Rp81,81 miliar, alias terangkat 11,82 persen jika dibandingkan dengan perolehan Rp73,16 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Laju pertumbuhan omzet penjualan tersebut turut mendorong perbaikan pada posisi bottom line perusahaan.
Nilai rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk terpantau membaik dan menyusut menjadi Rp30,24 miliar, dari angka sebelumnya yang menyentuh Rp82,54 miliar pada semester I/2025.
Sugianto menyampaikan bahwasanya lonjakan perolehan pendapatan tersebut membuktikan bahwa arah transformasi bisnis yang telah dijalankan perseroan selama lebih dari satu tahun mulai menunjukkan dampak positif pada rekam kinerja.
“Di tengah dinamika perekonomian dan volatilitas harga bahan baku, khususnya kakao, kami bersyukur dapat membukukan pertumbuhan pendapatan pada kuartal kedua 2026. Hasil ini menunjukkan bahwa transformasi yang kami jalankan selama lebih dari satu tahun terakhir kini mulai memberikan dampak terhadap kinerja perseroan,” ujar Sugianto.
Laju kenaikan pendapatan tersebut didorong oleh makin luasnya jangkauan aktivitas distribusi, penguatan penetrasi produk di pasar domestik, serta pengembangan kanal ekspor yang menjadi bagian dari strategi diversifikasi sumber pertumbuhan perseroan.
Beriringan dengan penguatan aspek fundamental bisnis, COCO juga telah menyudahi agenda Penawaran Umum Terbatas III (PUT III) yang berhasil meraup dana segar mencapai Rp1,28 triliun.
Keseluruhan porsi saham yang ditawarkan terserap penuh oleh pasar. Bahkan, alokasi pemesanan saham tambahan mengalami lonjakan permintaan berlebih (oversubscribed) mencapai 2,65 kali dari sisa saham yang tidak dieksekusi oleh pemegang HMETD.
Pihak manajemen menilai tingginya antusiasme para investor dalam aksi korporasi tersebut mencerminkan kuatnya kadar kepercayaan atas arah strategi transformasi beserta prospek pertumbuhan jangka panjang Win&Co Group.