Ketahui 7 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Merusak EQ Anak Sejak Dini

Ketahui 7 Kebiasaan Orang Tua yang Bisa Merusak EQ Anak Sejak Dini
Ilustrasi EQ Anak.

JAKARTA - Memiliki buah hati dengan kecerdasan emosional atau EQ yang tinggi menjadi dambaan setiap orang tua. Keberhasilan anak di masa depan tidak sekadar bergantung pada skor IQ, melainkan turut ditentukan oleh kekuatan EQ.

Kecerdasan emosional membantu anak mengenali perasaan, menumbuhkan empati, mengendalikan stres, serta menyelesaikan konflik secara sehat. Orang tua memegang peranan penting sebagai teladan utama dalam memupuk kemampuan ini.

Sayangnya, terdapat sejumlah kebiasaan orang tua yang tanpa disadari dapat mengikis dan merusak EQ anak.

Kebiasaan pertama adalah terlalu sering menghindarkan anak dari kegagalan. Mencegah anak menghadapi tantangan membuat mereka kehilangan kesempatan untuk belajar bangkit dan membangun ketahanan mental.

Kebiasaan kedua adalah meremehkan perasaan anak melalui ucapan yang mengerdilkan emosi mereka. Sikap ini berisiko membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang kesulitan meluapkan emosi secara sehat.

Kebiasaan ketiga adalah menuntut kesempurnaan secara terus-menerus. Ekspektasi berlebih memicu beban psikologis, rasa cemas berlebih, ketakutan akan kesalahan, serta menurunkan rasa percaya diri anak.

Kebiasaan keempat adalah mengancam akan meninggalkan anak saat mereka menunjukkan perilaku tidak kooperatif.

"Mengancam anak bisa sangat menakutkan karena anak-anak mengandalkan orang dewasa untuk menjaga keselamatan mereka," kata pakar perkembangan anak, Tovah Klein, seperti dilansir Business Insider.

Kebiasaan kelima adalah selalu berusaha memanjakan anak agar terus bahagia. Anak perlu diberi ruang untuk merasakan emosi negatif seperti kekecewaan guna membangun resiliensi fisik dan mental.

"Hal itu tidak memberi anak kesempatan untuk belajar mengatasi perasaan negatif. Ketika anak-anak mengalami stres ringan, mereka belajar mengatasi rintangan. Hal itu membantu membangun resiliensi," ujar Klein.

Kebiasaan keenam adalah melakukan pengabaian emosional akibat minimnya validasi dan perhatian. Pengabaian ini berisiko memicu rendahnya rasa percaya diri, kecemasan, hingga depresi pada anak.

Kebiasaan ketujuh adalah sikap terlalu mengontrol atau micromanaging. Mengatur seluruh tindakan anak merenggut kemandirian serta keberanian mereka dalam mengambil keputusan secara mandiri.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index