Langkah Penanganan Tepat Ketika Tubuh Terpapar Abu Vulkanik

Langkah Penanganan Tepat Ketika Tubuh Terpapar Abu Vulkanik
Ilustrasi Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

JAKARTA — Paparan abu vulkanik bukan sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata. Terdapat sejumlah aspek penting yang wajib diperhatikan agar dampak paparan tidak terus berlanjut atau memicu iritasi kesehatan yang lebih parah.

Sebaran abu vulkanik yang terbawa hembusan angin bisa dengan mudah menempel pada pakaian, kulit wajah, hingga terhirup ke dalam saluran pernapasan tanpa disadari. Setibanya di lokasi aman, keinginan untuk langsung membasuh diri memang wajar terjadi.

Namun, setipis apa pun endapan abu vulkanik yang menempel, penanganannya tidak boleh disamakan dengan debu atau kotoran biasa.

Kontak dengan abu vulkanik berisiko menimbulkan masalah kesehatan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, serta peradangan kulit. Kelompok anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi.

Apabila sudah telanjur berada dalam kondisi terpapar abu vulkanik, berikut sejumlah langkah penanganan yang sangat disarankan:

Segera Menjauh dari Paparan

Langkah awal yang paling krusial bukanlah langsung membasuh wajah atau mencuci pakaian, melainkan meminimalkan durasi kontak dengan abu.

Jika hujan abu masih berlangsung, segeralah berlindung di dalam ruangan serta tutup rapat jendela dan pintu. Berdasarkan saran Centers for Disease Control and Prevention (CDC), aktivitas di luar ruangan sebaiknya dihentikan total selama hujan abu terjadi.

Kandungan partikel halus dalam abu vulkanik sangat mudah mengganggu saluran pernapasan. Semakin lama seseorang beraktivitas di ruang terbuka, makin tinggi pula risiko partikel tersebut terhirup.

Jika situasi memaksa untuk keluar rumah atau mengondisikan lingkungan sekitar, CDC mengimbau penggunaan masker guna menyaring masuknya partikel abu.

Perhatikan Kondisi Setelah Menghirup Abu

Dampak kesehatan dari abu vulkanik kerap kali tidak langsung menunjukkan gejala berat pada momen awal. Dalam jangka pendek, abu umumnya mengiritasi mata serta saluran pernapasan atas.

Data US Geological Survey (USGS) mencatat keluhan umum yang sering muncul mencakup batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, hingga lonjakan kekambuhan pada penderita asma.

Kombinasi partikel abu dan gas vulkanik sanggup memicu sesak napas. Kelompok berisiko tinggi seperti anak-anak dan penderita gangguan jantung harus mendapatkan pengawasan ekstra.

Jika keluhan batuk, mengi, atau sulit bernapas tidak kunjung membaik setelah menjauh dari area paparan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Bersihkan Wajah dan Kulit, tapi Jangan Digosok Keras

Guna mencegah iritasi berlanjut, segera bersihkan seluruh area tubuh dan ganti pakaian setelah tiba di lokasi yang aman.

Sifat dasar abu vulkanik sangat abrasif. Pada beberapa kondisi kulit, gesekan langsung dengan material ini dapat memicu ruam kemerahan serta rasa perih. Hindari mengusap kulit secara kasar saat membasuhnya.

Bagi pengguna riasan wajah, hindari menyeka lapisan bedak atau foundation yang sudah tertutupi abu menggunakan tisu kering. Bilas terlebih dahulu menggunakan air mengalir untuk meluruhkan partikel abu, lalu bersihkan sisa riasan secara perlahan.

Kalau Abu Masuk Mata, Jangan Dikucek

Organ mata memerlukan perlindungan khusus saat terjadi hujan abu. Partikel tajam abu vulkanik dapat menimbulkan sensasi mengganjal, mata berair, merah, gatal, terbakar, hingga risiko cedera goresan kornea.

Pengguna lensa kontak menghadapi risiko yang lebih tinggi karena butiran abu rentan terselip di balik lensa. Jika mata terasuki abu, dilarang keras menguceknya.

Segera basuh mata memakai air bersih yang mengalir dan hentikan penggunaan lensa kontak sementara waktu. Kemenkes turut mengingatkan masyarakat untuk membilas mata secara perlahan atau memanfaatkan obat tetes mata steril jika diperlukan.

Apabila mata tetap terasa nyeri, memerah parah, sensitif terhadap cahaya, atau pandangan kabur usai dibilas, segera konsultasikan kepada dokter spesialis.

Jangan Asal Menyapu Abu di Rumah

Sampai di dalam rumah tidak serta-merta membuat potensi paparan hilang sepenuhnya. Abu yang mengendap di atas lantai atau furnitur dapat berhamburan kembali ke udara saat disapu secara asal, sehingga berisiko terhirup kembali.

Gunakan masker serta kacamata pelindung saat membersihkan sisa abu di dalam rumah. Kenakan pula pakaian lengan panjang dan sarung tangan.

Pilihlah metode pembersihan yang minim memicu debu berterbangan, misalnya dengan menyemprotkan sedikit air atau menggunakan kain lap basah.

Sebagian besar dampak iritasi akibat abu vulkanik tergolong ringan dan dapat pulih seiring berhentinya paparan. Kendati demikian, jangan pernah mengabaikan gejala sesak napas yang menetap.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index