TRENENERGI.COM — Festival film dokumenter Camden International Film Festival 2026 di Maine, Amerika Serikat, telah melewati separuh masa penyelenggaraannya. Edisi ke-22 ini menampilkan sejumlah sineas ternama seperti Alex Gibney, Laura Poitras, dan Barbara Kopple. Salah satu film yang mencuri perhatian adalah The Illusion of an Everlasting Summer karya Alessandra Sanguinetti.
Camden International Film Festival (CIFF) 2026 di wilayah mid-coast Maine, Amerika Serikat, kini berada di titik tengah penyelenggaraan. Festival yang seluruhnya berfokus pada film dokumenter ini melanjutkan programnya dengan penayangan perdana dunia dua karya terbaru.
Dua film yang menggelar world premiere pada Sabtu adalah Argonauts at the End of History garapan Sierra Pettengill dan No Money No Honey arahan Nicole Costa. Sehari sebelumnya, Jumat, giliran Dependence sutradara Grace Harper Brighouse serta Windows of Time karya Hubert Taylor dan Cyrus Moussavi yang pertama kali diputar.
Sineas Peraih Oscar Ramaikan Edisi ke-22
Edisi ke-22 CIFF kembali menarik sejumlah nama besar di dunia dokumenter. Pemenang Oscar Alex Gibney hadir membawa film terbarunya, Musk, sementara Laura Poitras menampilkan film pendek They're Here yang disutradarai bersama Rachel Lauren Mueller.
Dua kali peraih Academy Award Barbara Kopple turut serta lewat Union Town. Sutradara Luke Lorentzen, yang karyanya pernah masuk daftar pendek Oscar, membawa Boatbuilders tentang proses pembuatan kapal layar kayu sepanjang 56 kaki di Brooklin Boat Yard, Maine.
Keempat film tersebut tiba di Camden setelah menggelar penayangan perdana dunia di Venice Film Festival beberapa hari sebelumnya. Pada Kamis malam, CIFF menayangkan film yang lebih dulu tampil di Locarno Film Festival pada Agustus.
The Illusion of an Everlasting Summer, Debut Sutradara Fotografer Argentina
Film tersebut adalah The Illusion of an Everlasting Summer (La ilusión de un verano sin fin) karya fotografer Argentina Alessandra Sanguinetti. Ini menjadi debut penyutradaraan bagi Sanguinetti yang selama ini dikenal melalui karya fotografi.
Dokumenter ini mengajak penonton masuk ke dunia dua gadis sepupu, Guillermina "Guile" Aranciaga dan Belinda "Beli" Stutz, yang tumbuh besar di kawasan pertanian Pampas, Argentina. Sejak 1999, Sanguinetti mengikuti kehidupan keduanya saat mengurus hewan ternak, bermain di perairan sekitar, dan larut dalam imajinasi.
Dalam sesi tanya jawab usai penayangan yang dimoderatori Senior Programmer CIFF Zaina Bseiso, Sanguinetti mengungkap niat awalnya. "Niat awal saya adalah membuat seri foto tentang hewan ternak, melihat kehidupan melalui mata mereka. Dari situ saya bertemu nenek kedua gadis itu, dan lewat neneknya saya berkenalan dengan mereka," ujarnya.
Fokus Sanguinetti kemudian bergeser ke pemotretan Guile dan Beli. "Saat saya memotret mereka, saya merasa itu tidak cukup. Saya tidak bisa mendengar suara mereka. Saya pikir, fotografi terlalu datar. Saya harus merekam ini," jelasnya.
Sutradara itu lantas meletakkan kamera video di tripod sambil tetap memotret. Ia menyadari kedua gadis tersebut justru berakting di depan kamera video. "Lalu saya mulai bermain dengan mereka, bertanya, kenapa tidak kita berpura-pura begini atau begitu. Itu murni permainan di antara kami bertiga," tambahnya.
25 Tahun Merekam Kehidupan Dua Sepupu
The Illusion of an Everlasting Summer mengikuti perjalanan Guile dan Beli selama lebih dari seperempat abad, dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Seperti banyak proyek dokumenter lain, struktur naratifnya baru terbentuk di ruang penyuntingan.
"Saya tidak yakin film ini tentang apa sampai mulai menyunting. Saya hanya yakin ini tentang mereka, hewan-hewan sebagai saksi, waktu, dan sang nenek. Lewat penyuntingan, saya mulai melihat benang merah dan pola dalam hidup yang tak terlihat saat peristiwanya berlangsung," kata Sanguinetti.
Penonton di Locarno dan Camden sudah menyaksikan versi final dokumenter ini. Namun, kedua tokoh utamanya belum. "Guillermina sudah melihat beberapa versi film, tapi belum versi finalnya. Belinda selalu menolak saat saya tawari menonton versi berbeda, dia bilang ingin menonton saat filmnya sudah keluar," ungkap sang sutradara.
Menurut Sanguinetti, Belinda tahu betul materi yang dimilikinya sangat banyak. "Yang mungkin mengejutkan baginya adalah alurnya, karena saya yang membangunnya. Ini setia pada kenyataan, tapi menghilangkan 80 persen hidup mereka. Ini hanya kisah mereka melalui mata saya, secuil dari hidup mereka," tuturnya.
Jadwal Penayangan Berikutnya
Setelah Camden, The Illusion of an Everlasting Summer dijadwalkan tampil di San Sebastián Film Festival di Spanyol. Film ini juga akan diputar pada Oktober di Film Fest Gent, Belgia, Chicago International Film Festival, dan Mill Valley di California Utara.
Kehadiran sejumlah nama besar di CIFF 2026 menegaskan posisi festival ini sebagai salah satu ajang penting bagi industri dokumenter global. Bagi penonton Indonesia, film-film yang tampil di Camden biasanya menyusul ke platform streaming atau festival regional beberapa bulan setelah rangkaian tur festivalnya selesai.