SuperBank

SuperBank SUPA Telah Gunakan 47 Persen Dana IPO hingga Desember 2025

SuperBank SUPA Telah Gunakan 47 Persen Dana IPO hingga Desember 2025
SuperBank SUPA Telah Gunakan 47 Persen Dana IPO hingga Desember 2025

JAKARTA - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA), yang sukses melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO), baru-baru ini mengungkapkan pencapaian penggunaan dana yang terkumpul. 

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang dipublikasikan oleh perusahaan pada 23 Januari 2026, SUPA berhasil meraup dana IPO sebesar Rp 2,79 triliun. Setelah dipotong biaya penawaran umum sebesar Rp 67,43 miliar, dana bersih yang berhasil diperoleh perusahaan mencapai Rp 2,73 triliun.

Hingga akhir Desember 2025, SUPA telah merealisasikan penggunaan dana IPO sebesar Rp 1,29 triliun. Dana ini sepenuhnya dialokasikan untuk modal kerja, yang ditujukan untuk penyaluran kredit kepada nasabah. 

Dengan demikian, sekitar 47,24% dari total dana IPO telah digunakan untuk mendukung kegiatan operasional dan ekspansi kredit perusahaan. Angka ini menunjukkan keseriusan SUPA dalam memanfaatkan dana IPO untuk mempercepat pertumbuhan bisnisnya, khususnya di sektor pembiayaan.

Namun, meskipun sebagian besar dana telah digunakan, terdapat sisa dana IPO yang cukup besar, yakni Rp 1,44 triliun. Sisa dana tersebut saat ini ditempatkan pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) Deposit Facility (DF) dengan bunga sebesar 3,75% per tahun dan tenor overnight. 

Penempatan dana ini dilakukan dengan pihak ketiga, yang bertujuan untuk mengamankan dana sementara sambil menunggu peluang penggunaan lebih lanjut.

Rencana Awal Penggunaan Dana IPO dan Strategi Modal Kerja

Dalam rencana awalnya, SUPA mengungkapkan bahwa dana IPO akan dialokasikan sebesar 70% untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit, sedangkan 30% sisanya untuk belanja modal. 

Hingga periode pelaporan terakhir, perseroan baru merealisasikan penggunaan dana untuk modal kerja dan belum ada pengalokasian dana untuk belanja modal. 

Hal ini menunjukkan fokus perusahaan pada ekspansi pembiayaan, yang sesuai dengan strategi perusahaan untuk mempercepat pertumbuhan kreditnya, seiring dengan perluasan portofolio nasabah.

Meskipun belum ada penggunaan dana untuk belanja modal, SUPA tetap memegang komitmen untuk mengikuti rencana awal dan mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan ekspansi jangka panjang perusahaan. 

Dalam waktu yang akan datang, penggunaan dana untuk belanja modal diperkirakan akan mulai dilaksanakan, mengikuti pertumbuhan kredit yang terjadi. Sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang, belanja modal dapat mencakup investasi infrastruktur yang akan mendukung operasional lebih lanjut.

Biaya Penawaran Umum dan Realisasi Penggunaan Dana

Sebagai informasi tambahan, biaya-biaya yang terkait dengan penawaran umum saham perdana (IPO) juga telah terungkap dalam laporan ini. Total biaya penawaran umum yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 67,43 miliar, yang terdiri dari berbagai komponen biaya.

Komponen terbesar berasal dari biaya jasa penyelenggaraan atau management fee, yang mencapai sekitar Rp 27,98 miliar, atau sekitar 1% dari total dana IPO. Selain itu, ada juga biaya emisi lainnya, termasuk biaya penjaminan emisi dan penjualan, yang masing-masing tercatat sebesar Rp 2,24 miliar.

Biaya jasa profesi penunjang pasar modal juga tercatat sebesar Rp 10,08 miliar, yang berfungsi untuk mendukung kelancaran proses IPO dan memastikan bahwa perusahaan memenuhi semua persyaratan hukum dan regulasi yang berlaku. 

Semua biaya ini diperlukan untuk memastikan bahwa IPO dapat dilaksanakan dengan lancar dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Proyeksi Kinerja SUPA pada Tahun 2026

Mengacu pada hasil realisasi penggunaan dana IPO dan komponen biaya yang telah diungkapkan, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) tetap optimis terhadap masa depan bisnisnya pada tahun 2026. 

Dalam laporan sebelumnya, SUPA mengungkapkan bahwa perusahaan berharap untuk terus mempercepat ekspansi pembiayaan dan mengoptimalkan potensi pasar dengan memanfaatkan dana yang terkumpul.

 Dengan sekitar 47% dana IPO yang sudah digunakan, SUPA berencana untuk terus mendukung pengembangan modal kerja dan memperluas layanan kreditnya kepada masyarakat.

Di sisi lain, meskipun terdapat sisa dana yang belum digunakan, SUPA tetap menjaga fleksibilitas dalam pengelolaan dana tersebut dengan menempatkannya pada instrumen yang aman dan memberikan imbal hasil yang kompetitif. 

Penempatan dana pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (FASBI) menunjukkan bahwa perusahaan tetap berhati-hati dalam mengelola keuangannya, sembari menunggu peluang yang tepat untuk menggunakan dana lebih lanjut.

Untuk 2026, SUPA juga memproyeksikan pertumbuhan yang signifikan dalam portofolio kreditnya, yang dapat memacu pendapatan dan laba yang lebih tinggi. 

Dengan fokus yang jelas pada penyaluran kredit, SUPA berharap dapat mencapai tujuan jangka panjang perusahaan untuk meningkatkan kehadiran di pasar dan memperluas cakupan layanan finansial.

Strategi Pengelolaan Dana dan Keamanan Investasi

Melihat sisa dana IPO yang cukup besar, pertanyaan yang muncul adalah mengenai strategi pengelolaan dana tersebut. Dengan penempatan dana pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia, SUPA memastikan bahwa dana yang tidak segera digunakan tetap menghasilkan keuntungan melalui bunga yang kompetitif. 

Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan memiliki manajemen keuangan yang hati-hati dan cermat dalam mengelola sisa dana IPO. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia dengan tingkat bunga yang menarik memberikan jaminan keamanan bagi dana yang ditempatkan di sana, sambil tetap memberikan keuntungan tambahan.

Ke depan, SUPA akan terus berupaya agar sisa dana tersebut dapat digunakan sesuai dengan rencana awal dan berkontribusi pada keberlanjutan ekspansi perusahaan.

Tentunya, dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kebutuhan internal perusahaan, penggunaan dana akan terus dievaluasi agar dapat mendukung pertumbuhan jangka panjang dan keberhasilan operasional SUPA.

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) telah berhasil menjalankan IPO yang sukses dengan total dana yang terkumpul sebesar Rp 2,79 triliun. Hingga akhir Desember 2025, sekitar 47% dari dana IPO telah dialokasikan untuk modal kerja penyaluran kredit, sementara sisa dana ditempatkan pada Fasilitas Simpanan Bank Indonesia. 

Meskipun demikian, SUPA tetap memperhatikan rencana penggunaan dana yang lebih besar dalam waktu mendatang, dengan fokus pada ekspansi kredit dan belanja modal.

Dengan strategi pengelolaan dana yang hati-hati dan perencanaan jangka panjang yang matang, SUPA berpotensi untuk mencapai pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2026. 

Perusahaan terus menjaga fleksibilitas dalam mengelola keuangan dan berupaya mengoptimalkan potensi pasar dengan layanan kredit yang semakin berkembang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index