IHDC Sebut 4 Masalah Kesehatan Ancam Kognitif Anak Indonesia di 2026

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:24:32 WIB
Ilustrasi Masalah Kesehatan Kognitif Anak.

JAKARTA - Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk menyoroti ancaman silent cognitive burden atau beban kognitif senyap yang berpotensi menggerus kemampuan berpikir anak.

Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan bahwa masalah kesehatan yang kerap diabaikan dapat mengancam kualitas sumber daya manusia serta daya saing bangsa di masa depan.

Temuan tersebut dipaparkan dalam Seri Kajian Strategis IHDC yang dipimpin Direktur Eksekutif Ray Wagiu Basrowi melalui kajian ilmiah serta validasi para pakar lintas disiplin.

Hasil kajian mengidentifikasi empat masalah kesehatan utama yang berhubungan erat dengan perkembangan kognitif anak usia sekolah, yaitu gangguan refraksi mata, defisiensi zat besi, defisiensi protein, dan gangguan perilaku.

"Diperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Selain itu, lebih dari 7 juta balita diperkirakan mengalami defisiensi zat besi. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku berupa kecemasan," kata Ray dalam paparannya, Kamis (23/7/2026) di Jakarta.

Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014-2019, Nila F. Moeloek, menegaskan bahwa keempat masalah ini dapat merusak memori kerja, daya fokus, hingga kemampuan berinovasi anak.

"Selama ini kami menganggap gangguan penglihatan, anemia, atau masalah perilaku sebagai persoalan kesehatan individual. Padahal bila terjadi pada jutaan anak Indonesia, dampaknya dapat memengaruhi kualitas modal manusia nasional. Yang hilang bukan hanya nilai rapor, tetapi juga potensi berpikir, berinovasi, dan membangun masa depan," kata Nila.

Masalah pertama adalah gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi, di mana anak kesulitan membaca atau melihat papan tulis sehingga menghambat proses belajar harian.

Masalah kedua yaitu defisiensi zat besi yang selain memicu risiko anemia, juga menurunkan fungsi otak, daya ingat, serta konsentrasi anak pada masa tumbuh kembang.

Masalah ketiga adalah defisiensi protein yang dapat mengganggu pertumbuhan struktur otak serta sistem saraf pusat, sehingga memperlambat kemampuan menyerap pelajaran.

Masalah keempat berupa gangguan perilaku, termasuk rasa kecemasan, yang secara signifikan mengurangi fokus anak saat berinteraksi dan belajar di sekolah.

Terkini