Kebiasaan Begadang Berisiko Tingkatkan Lemak Tubuh Menurut Riset 2026

Kebiasaan Begadang Berisiko Tingkatkan Lemak Tubuh Menurut Riset 2026
Ilustrasi Begadang.

JAKARTA - Kebiasaan tidur larut malam atau night owl tidak sekadar berdampak pada pola tidur, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan metabolik.

Penelitian terbaru dalam jurnal Frontiers melibatkan 287 perempuan untuk menguji hubungan chronotype dengan komposisi lemak tubuh seseorang.

Hasil riset menunjukkan bahwa individu yang gemar begadang cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan di malam hari serta memiliki risiko obesitas lebih tinggi.

Analisis data mencatat kelompok yang aktif pada malam hari memiliki indeks massa tubuh, lingkar pinggang, serta lemak visceral yang lebih tinggi.

Pola makan yang dilakukan hingga larut malam membuat asupan karbohidrat, lemak, dan protein melonjak dibandingkan mereka yang bangun pagi.

Selain komposisi tubuh, kelompok night owl juga menunjukkan indikator metabolik kurang baik seperti tingginya kadar gula darah dan trigliserida.

"Temuan bahwa individu dengan kronotipe malam juga memiliki kadar trigliserida, insulin, HbA1c, dan leptin yang lebih tinggi, serta kadar kolesterol HDL yang lebih rendah, semakin memperkuat hubungan tersebut,” kata Alqaisi.

Dokter spesialis psikiatri dan pengobatan tidur, Alex Dimitriu, menambahkan bahwa orang yang sering begadang cenderung memilih makanan kurang sehat.

“Orang yang terbiasa aktif hingga larut malam cenderung mengonsumsi makanan yang kurang sehat setelah matahari terbenam, memiliki waktu puasa malam yang lebih singkat, serta memiliki indeks massa tubuh (BMI) dan persentase lemak tubuh yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidur lebih awal,” ungkap Dimitriu.

Meski bersifat observasional, temuan ini memberikan panduan penting terkait pentingnya pengaturan jadwal makan untuk mengontrol lemak tubuh.

"Saya selalu menekankan kepada pasien untuk mengurangi konsumsi karbohidrat dan gula, terutama pada malam hari, karena hal itu dapat membantu menurunkan berat badan,” jelas Mir Ali.

“Pola makan yang menekankan protein dan sayuran rendah pati merupakan pendekatan yang paling baik,” tambahnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index