Riset Sebut Literasi Digital Tak Halangi Orang Tua Lakukan Sharenting

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:27:31 WIB
Ilustrasi Literasi Digital dan Sharenting.

JAKARTA - Tingkat literasi digital yang tinggi rupanya tidak serta-merta menghentikan kebiasaan orang tua dalam membagikan privasi anak di media sosial.

Orang tua kerap tetap melakukan aktivitas sharenting meskipun sudah menyadari bahaya kebocoran data hingga potensi penyalahgunaan foto anak.

Pengajar Fakultas Pendidikan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Charyna Ayu, menilai kondisi tersebut menunjukkan bentuk ketidakkonsistenan perilaku orang tua.

Charyna memaparkan hasil penelitian terhadap 385 ibu yang memiliki anak berusia di bawah 13 tahun di Jawa Timur mengenai perilaku unggah konten anak di Instagram.

"Jadi, riset terhadap hampir 400 ibu di Jawa Timur itu menemukan bahwa ternyata literasi digital hanya menyumbang 14,4 persen terhadap perubahan perilaku sharenting mereka," ujar Charyna kepada CNNIndonesia.com di kampus UIII, Depok, Selasa (7/7/2026).

Berdasarkan riset Birgitta Bestari Puspita dan Paulus A Edvra dalam jurnal Komunikatif (2022), mayoritas responden merupakan lulusan perguruan tinggi strata-1 (63,8 persen).

Meski berpendidikan tinggi dan paham akan risiko privasi digital, kebiasaan orang tua dalam melakukan sharenting tidak mengalami perbedaan berarti.

"Mayoritas ibu dalam penelitian itu sebetulnya tahu risiko sharenting itu apa. [Misalnya] kebocoran data, penyalahgunaan foto, dan sebagainya, tapi pengetahuan itu enggak mengubah kebiasaan mereka. Literasi digitalnya bagus, tapi kenapa mereka tetap begitu?" tutur Charyna.

Charyna menilai kecenderungan tersebut dipengaruhi oleh faktor psikologis personal fable, yaitu persepsi bahwa hal buruk tidak akan menimpa dirinya.

Karakteristik psikologis yang umum dijumpai pada remaja ini membuat orang tua merasa yakin dapat mengatasi bahaya yang muncul dari unggahan mereka.

"Jadi, di tahap perkembangan remaja itu, salah satu karakter yang paling melekat sama mereka adalah mereka sangat yakin kalau mereka melakukan sesuatu, bisa mampu mengatasinya," ujar Charyna.

Keyakinan berlebih tersebut membuat orang tua tetap mempublikasikan konten anak meski sadar akan potensi bahayanya.

Di sisi lain, kebiasaan mengunggah konten anak tanpa izin dianggap kontradiktif dengan peran orang tua sebagai teladan utama dalam pembatasan screen time.

"Orang tua is the main role model. Tapi lagi-lagi, kan, ternyata, fenomena sharenting itu ketika dia mengontenkan anaknya tanpa izin dari si anak ini, itu juga paradoxical menurut saya," ucap Charyna.

Ia menegaskan bahwa literasi digital bukanlah satu-satunya variabel yang menentukan dorongan seseorang dalam membagikan ranah privasi di media sosial.

"Tapi ternyata ada yang lain lagi. Ini yang masih dicari apa," ucap Charyna.

Terkini