Psikolog Ungkap Bekal Utama Orang Tua Mendidik Anak pada Era Digital

Kamis, 23 Juli 2026 | 02:36:31 WIB
Ilustrasi Digital Parenting.

JAKARTA - Pola pengasuhan anak di era digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi setiap keluarga dengan segala kompleksitasnya.

Bahaya yang mengintai anak kini mencakup jejak digital hingga paparan budaya membagikan momen pribadi di media sosial sejak usia dini.

Oleh karena itu, pengasuhan digital tidak hanya menuntut kemampuan teknis, tetapi juga penguasaan literasi emosional secara seimbang.

Psikolog Tabula Rasa, Arnold Lukito, menjelaskan bahwa kecerdasan emosional menjadi fondasi utama bagi orang tua dalam membimbing anak di ruang siber.

"Bekal yang paling penting dimiliki orang tua di era digital bukan hanya literasi teknologi, tetapi juga literasi emosi atau emotional intelligence. Banyak orang tua fokus pada screen time, parental control, dan hal-hal teknis lainnya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak belajar mengenali emosi, membuat batasan (boundaries), memahami persetujuan (consent), serta menyadari bahwa dirinya berharga bukan karena dilihat banyak orang," kata Arnold kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Arnold menekankan bahwa orang tua perlu melatih kesadaran diri untuk mengevaluasi motivasi utama saat membagikan konten anak di media sosial.

"Orang tua perlu menyadari motivasi di balik perilaku digitalnya. Apakah mengunggah konten anak benar-benar untuk berbagi kebahagiaan, atau sebenarnya sedang mencari validasi?" ujarnya.

Selain itu, orang tua wajib menahan diri serta menyadari bahwa anak memiliki hak privasi atas identitas maupun kehidupan pribadinya.

Anak akan menyerap kebiasaan digital dari contoh nyata yang diberikan oleh orang tua, bukan sekadar dari nasihat atau teguran formal.

"Sulit membesarkan anak yang sehat secara digital kalau orang tuanya sendiri gelisah, haus validasi, dan cenderung terlalu mengumbar kehidupan di media sosial. Kesehatan digital anak sebenarnya dimulai dari hubungan orang tua dengan gadget-nya sendiri," katanya.

Upaya menjaga keamanan digital anak dapat dimulai sejak usia dini dengan cara memfilter setiap foto sebelum dibagikan ke publik.

Memasuki usia tumbuh kembang, konsep persetujuan digital (digital consent) harus dikenalkan agar anak paham bahwa dirinya memiliki kontrol atas privasi pribadi.

"Anak usia dini bisa mulai diajarkan bahwa ini tubuh kamu, tidak semua foto harus dikirim, kalau tidak mau difoto boleh bilang tidak, atau kami perlu meminta izin sebelum mengirim foto orang lain," ujar Arnold.

"Mungkin terdengar aneh bertanya, 'Boleh Ayah foto?'. Padahal, kebiasaan ini menumbuhkan konsep diri pada anak bahwa pendapat dan persetujuannya diperhitungankan dan dianggap penting," katanya.

Arnold menambahkan bahwa anak harus dipandang sebagai individu utuh yang memiliki hak atas privasi, bukan sekadar materi konten media sosial.

"Anak adalah individu, bukan 'properti digital' orang tua. Orang tua memang punya tanggung jawab mengambil keputusan untuk anak, tetapi bukan berarti semua hal tentang anak perlu dan boleh dibagikan," ujarnya.

Penerapan digital consent mengajarkan anak untuk berani menentukan batasan diri, yang berguna bagi perkembangan emosionalnya hingga dewasa.

"Consent bukan bertanya 'boleh ya' sambil memaksa. Consent harus memberi ruang bagi anak untuk berkata tidak. Di situlah anak belajar bahwa batasannya valid dan sah. Bekal ini akan berguna bukan hanya di media sosial, tetapi juga dalam pertemanan, relasi, hingga kehidupan emosionalnya," katanya.

Terkini