Pengguna QRIS Tembus 63 Juta Bos LPS Beri Apresiasi ke Perry Warjiyo

Selasa, 28 Juli 2026 | 03:25:01 WIB
Ilustrasi Warga menggunakan QRIS DI toko.

JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyoroti laju pesat perkembangan ekonomi digital di Tanah Air, yang salah satunya ditopang oleh penetrasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Dalam penjelasannya, QRIS tercatat berhasil menjangkau sekitar 63 juta pengguna serta 45 juta pedagang (merchant), yang menjadi pijakan vital bagi peningkatan inklusi keuangan nasional.

“Indonesia termasuk negara dengan perkembangan ekonomi digital tercepat di kawasan. Penggunaan QRIS meningkat. Terima kasih untuk Pak Perry Warjiyo, mesti dicatat ini,” kata Anggito dalam sambutannya pada Seminar Nasional dan Pelantikan ISEI Jakarta di Perbanas Institute Kampus Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Sebagai kilas balik, era kepemimpinan Perry Warjiyo di Bank Indonesia memelopori transformasi pembayaran digital nasional, termasuk peluncuran QRIS pada tahun 2019 silam.

Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi QRIS terus melesat hingga tumbuh 100,12 persen secara tahunan (year on year/YoY) pada kuartal II/2026.

Meski demikian, Anggito menekankan adanya tantangan nyata lantaran tingkat literasi digital masyarakat belum sepenuhnya mengimbangi kecepatan adopsi teknologi finansial tersebut.

Ia menilai edukasi keuangan sangat krusial untuk memperkuat pemahaman publik, di mana institusi pendidikan tinggi seperti Perbanas memegang peranan yang sangat strategis.

Di sisi lain, Anggito mengingatkan fenomena paradoks dari digitalisasi, di mana efisiensi transaksi yang makin tinggi juga berbanding lurus dengan peningkatan risiko kerentanan sistemik.

“Misinformasi dapat viral dalam hitungan menit. Kepanikan dapat terjadi dalam hitungan jam. Artinya teknologi meningkatkan efisiensi, tetapi pada saat yang sama juga meningkatkan kerentanan sistemik,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski laju pertumbuhan sektor teknologi finansial (fintech) telah melampaui pertumbuhan penyaluran kredit perbankan, inovasi digital tetap harus diimbangi oleh tata kelola yang kokoh.

“Pertumbuhan harus selalu diimbangi dengan tata kelola. Inovasi tidak boleh mendahului perlindungan konsumen. Kecepatan tidak boleh mengalahkan kehati-hatian,” katanya.

Anggito turut memetik pelajaran dari krisis sektor perbankan di Amerika Serikat (AS) pada 2023, di mana kemajuan teknologi mampu memicu fenomena penarikan dana massal (bank run) hanya dalam hitungan jam.

Menurut analisisnya, integrasi media sosial dan layanan mobile banking mempercepat dinamika tersebut, sehingga pengelolaan tingkat kepercayaan publik harus dilakukan secara cermat serta real time.

“Karena itulah pengolahan kepercayaan harus berlangsung secara real time,” pungkasnya.

Terkini