BEI Terapkan Batas Minimum Harga Saham Rp1 per 28 September 2026 Mendatang

Rabu, 16 September 2026 | 22:55:31 WIB
PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

JAKARTA - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa sebanyak 92 Anggota Bursa (AB) telah menyatakan kesiapan mereka untuk mengikuti penyesuaian batas minimum harga saham dari sebelumnya Rp50 per saham menjadi Rp1 per saham. Saat ini, tercatat hanya tersisa 1 AB yang belum siap mengikuti kebijakan baru tersebut.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa BEI siap mengimplementasikan aturan batas minimum harga saham baru ini mulai 28 September 2026.

“Per hari ini, tinggal satu Anggota Bursa (AB) yang masih kami tunggu kesiapannya. Oleh karena itu, kami sangat optimis untuk MOC (Management of Change) di hari Sabtu (19/09), satu Anggota Bursa itu bisa ikut MOC dan kemudian siap untuk bisa ikut dalam perdagangan di tanggal 28 (September) nanti yang sudah tidak lagi menggunakan harga minimum Rp50,” ujar Jeffrey saat diwawancarai wartawan di Ruang Media BEI, Jakarta, Rabu.

Mengenai satu AB yang belum menyatakan kesiapannya, Jeffrey memprediksi hal itu hanya disebabkan oleh masalah teknis semata. Ia menegaskan kondisi tersebut tidak perlu dirisaukan dan diyakini akan rampung sebelum tanggal 28 September 2026.

“Harusnya kendala yang sifatnya sangat teknis, bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan, jadi sangat teknis, harusnya aman.” kata Jeffrey.

Mendekati hari peluncuran, BEI terus memastikan seluruh sarana dan infrastruktur sistem bursa sudah benar-benar siap untuk mengakomodasi perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 ke Rp1 per saham.

“Kalau infrastruktur bursa, sudah sangat siap. Oleh karena itu, waktu di pengujian pertama itu tentu yang harus siap itu adalah infrastruktur bursa. Nah sekarang sudah hampir semuanya siap dan yang paling harus siap pertama ya infrastruktur bursa,” tutur Jeffrey.

Saat ditanya mengenai potensi gejolak atau volatilitas harga pasar yang mungkin terjadi pasca-implementasi, Jeffrey mengaku tidak terlalu merisaukan pergerakan harga. Perhatian utama manajemen BEI justru tertuju pada keandalan sistem dalam menampung lonjakan lalu lintas transaksi.

“Sebenarnya yang kami antisipasi dari sisi bursa sebagai penyedia infrastruktur perdagangan, bukan volatilitas harganya, tetapi adalah trafik ke sistem. Itu yang kami antisipasi. Nah itu sudah dilakukan juga pengujian-pengujian, mudah-mudahan semuanya lancar,” pungkas Jeffrey.

Terkini