ESDM Andalkan PLTB Sidrap dan Jeneponto Saat El Nino Keringkan Sungai

Sabtu, 19 September 2026 | 12:50:00 WIB
ESDM Andalkan PLTB Sidrap dan Jeneponto Saat El Nino Keringkan Sungai

TRENENERGI.COMKementerian ESDM menilai Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap dan PLTB Jeneponto di Sulawesi Selatan mampu beroperasi penuh untuk menopang pasokan listrik wilayah itu. Langkah ini diambil setelah fenomena El Nino menurunkan debit air sungai di Sulawesi dan Kalimantan sehingga produksi PLTA merosot. Kombinasi air dan angin dinilai ideal karena penurunan kapasitas PLTA terjadi bersamaan dengan meningkatnya potensi hembusan angin.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyebut penurunan produksi PLTA akibat kemarau panjang membuat pihaknya melirik tenaga angin sebagai penopang. Ia baru saja meninjau langsung kondisi pembangkit di Sulawesi Selatan.

"Intinya kalau itu ya ukuran di PLN. Saya juga baru balik dari sana karena saya berkunjung. PLTA memang turun. Turun karena berkepanjangan ya. Sekarang sungai-sungai di Kalimantan kan juga surut. Nah, yang saya lihat justru memang adalah PLTB," kata Eniya, ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mengapa Angin Jadi Penopang Saat Kemarau

Menurut Eniya, tenaga angin saat musim El Nino bertiup selama 24 jam penuh. Kondisi itu mampu menutupi penurunan daya dari PLTA yang debit airnya menyusut.

Karakteristik angin di Indonesia memiliki siklus khusus selama 4 hingga 4,5 bulan, mulai Juni, Juli, Agustus, September, hingga pertengahan Oktober. Pada periode itu angin dapat menghasilkan energi selama 24 jam nonstop. Cuaca panas ekstrem bahkan memicu kecepatan dan intensitas angin semakin tinggi.

"Nah, itu berarti kesimpulan sementara kita adalah pada saat panas ya, sungai itu surut, air itu surut, PLTA ini harus dikombinasi dengan angin," paparnya.

Dua PLTB di Sulsel Beroperasi Optimal

PLTB Sidrap dan PLTB Jeneponto tercatat mampu beroperasi penuh secara optimal guna menopang kebutuhan energi Sulawesi Selatan. Kedua pembangkit itu menjadi andalan ketika pasokan dari PLTA menurun.

Meski pemetaan potensi PLTB dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) mencapai 11 Giga Watt (GW), investasi di sektor energi angin belum bertambah dalam empat tahun terakhir. Potensi itu tersebar di berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, NTT, hingga Maluku.

Terkini