Prabowo Klaim RI Bebas Impor Solar Berkat Sukses B50 dari Sawit

Prabowo Klaim RI Bebas Impor Solar Berkat Sukses B50 dari Sawit
Prabowo Klaim RI Bebas Impor Solar Berkat Sukses B50 dari Sawit

TRENENERGI.COM — Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia telah bebas impor solar sejak 1 Juli 2026 berkat keberhasilan pengembangan biodiesel B50 berbahan minyak kelapa sawit. Klaim ini disampaikan di tengah kelangkaan solar yang melanda pasar global.

Pernyataan itu disampaikan Prabowo dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Ia menyoroti kondisi pasar energi dunia yang sedang kesulitan pasokan solar.

Solar Langka di Pasar Global

Prabowo menyebut Indonesia sebenarnya punya kemampuan finansial untuk membeli solar dari luar negeri. Masalahnya, pasokan komoditas itu tidak tersedia di pasar internasional.

"Dan hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya, alhamdulillah kita sudah bisa produksi solar kita sendiri, Saudara-saudara. Dari mana? Dari kelapa sawit, dari tanaman yang Maha Kuasa telah memberi karunia kepada kita," kata Prabowo.

Kelangkaan solar global membuat posisi Indonesia dinilai lebih kuat. Ketergantungan pada pasokan impor untuk BBM jenis diesel disebut sudah terputus sejak awal Juli 2026.

Sawit, Tanaman Serba Bisa

Dalam pidatonya, Prabowo menyebut kelapa sawit sebagai tanaman istimewa. Menurutnya, sawit bisa menghasilkan sedikitnya 57 jenis produk turunan atau derivatif.

Produk turunan itu tidak hanya untuk energi. Sawit juga jadi bahan baku sektor pangan, farmasi, hingga kosmetik.

Keberhasilan B50 menempatkan sawit sebagai tulang punggung bauran energi nasional. Program ini sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas perkebunan di dalam negeri.

Dorongan bagi Petani dan Industri

Penerapan mandatori B50 berdampak langsung ke rantai pasok CPO dalam negeri. Permintaan bahan baku sawit dari produsen biodiesel berpotensi menyerap produksi kebun rakyat maupun perusahaan besar.

Bagi konsumen, langkah ini mengurangi risiko gejolak harga solar akibat ketegangan pasokan global. Sektor transportasi dan industri yang bergantung pada diesel jadi lebih terlindungi dari lonjakan harga impor.

Namun, keberlanjutan program tetap bergantung pada kesiapan pasokan CPO. Keseimbangan antara kebutuhan energi dan pangan perlu dijaga agar tidak memicu tekanan harga minyak goreng di pasar domestik.

Klaim bebas impor solar ini menjadi penanda arah kebijakan energi Prabowo. Sawit ditempatkan bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan penopang utama ketahanan energi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index