BPH Migas Awasi Ketersediaan dan Penyaluran BBM di Wilayah NTT

Sabtu, 19 September 2026 | 17:41:01 WIB
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas.

JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) meninjau langsung ketersediaan serta penyaluran BBM jenis minyak tanah di wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas melalui keterangannya di Jakarta pada hari Sabtu, mengatakan bahwa peninjauan ini bertujuan untuk mengecek kelancaran suplai. Langkah ini juga memastikan layanan energi bagi warga sesuai dengan aturan yang berlaku.

Agenda pemantauan dari BPH Migas ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja khusus yang dilakukan oleh Komisi XII DPR RI ke daerah NTT.

Wahyudi menjelaskan, stok BBM pascabencana gempa bumi di Flores secara keseluruhan sudah aman dan lancar. Pasokan tersebut didatangkan langsung dari Fuel Terminal Labuan Bajo dan juga Fuel Terminal Reo.

Sementara itu, distribusi pasokan minyak tanah yang dikirim dari Fuel Terminal Reo menuju wilayah Manggarai Barat juga terpantau berjalan tanpa hambatan berarti.

Salah satu pemasoknya adalah Agen Minyak Tanah Wardun Perkasa Jaya yang mendistribusikan ke Pangkalan Wae Mbuka. Rata-rata volume penyalurannya mencapai angka 800 sampai 900 liter dalam kurun waktu tiga hari sekali.

"Dengan skema ini, stok minyak tanah di pangkalan selalu terjaga dan aman, sehingga kebutuhan memasak rumah tangga warga untuk jangka waktu 3-4 hari ke depan dapat terpenuhi dengan baik," ucapnya saat agenda pengawasan di Kecamatan Komodo, Manggarai Barat pada Jumat (18/9).

Pangkalan Minyak Tanah Wae Mbuka tercatat memenuhi pasokan untuk lebih kurang 150 kepala keluarga. Demi mempercepat proses pelayanan, pihak pangkalan memberlakukan sistem antrean memakai jeriken.

Masing-masing jeriken tersebut telah ditandai dengan nama pemiliknya. Hal ini membuat masyarakat setempat tidak harus antre dalam waktu yang terlampau lama ketika proses pengisian berlangsung.

"Dengan sistem antrean jeriken ini, masyarakat cukup menyerahkan jeriken yang diberi nama kepala keluarga dan mengambilnya kembali secara rutin setelah terisi. Layanan ini ini diterapkan demi memudahkan warga di wilayah Kelurahan Wae Kelambu agar mereka dapat menyesuaikan waktu pengambilan minyak tanah," ujar Wahyudi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, rata-rata penggunaan minyak tanah menyentuh angka 2 hingga 2,5 liter per hari untuk tiap rumah tangga. Pola pemakaian ini memberikan gambaran terkait besaran konsumsi energi di daerah tersebut.

Junari (42), salah seorang pelanggan setia di pangkalan tersebut menyebutkan bahwa keluarganya menghabiskan minyak tanah kurang lebih 20 liter tiap bulan.

"Terima kasih kepada pemerintah karena minyak tanah di sini selalu tersedia," ucap warga tersebut.

Di samping memastikan stok minyak tanah, Wahyudi juga mengecek langsung jalannya penyaluran BBM jenis Biosolar dan Pertalite di area SPBU Kecamatan Komodo, Manggarai Barat.

Pengecekan ini berfokus pada mutu pelayanan konsumen, keberadaan dan letak kamera CCTV, hingga kepastian ketersediaan stok bahan bakar minyak di stasiun pengisian tersebut.

Dirinya menjelaskan bahwa situasi operasional selama masa peninjauan berlangsung sangat aman dan tertib. Antrean mobil yang mengantre Biosolar dan Pertalite tetap bisa ditangani dengan proses pengisian yang lancar.

"Kami lihat ada beberapa sedikit antrean untuk pembelian BBM, khususnya Biosolar maupun Pertalite roda empat. Namun, pelayanan tetap dapat berjalan dengan baik dan cukup lancar," sebutnya.

Menurut keterangan Wahyudi, pihak pengelola SPBU itu sudah mengoperasikan kamera pengawas CCTV yang aktif memonitor situasi secara nonstop selama 24 jam penuh.

BPH Migas kemudian menyarankan pihak manajemen untuk mempercepat waktu pelayanan konsumen sekaligus mengatur ulang sudut pengambilan gambar pada kamera CCTV.

Hal ini bertujuan agar pelat nomor mobil pembeli Biosolar dan Pertalite dapat selalu terekam dengan jelas.

"Agar rekamannya cukup baik dan kami bisa mengidentifikasi kendaraan yang berhak untuk membeli BBM tersebut," ungkapnya.

Dalam kunjungannya, Wahyudi turut berbincang dengan Rizal (25), seorang sopir truk barang. Rizal mengaku biasanya membeli Biosolar tiap tiga hari sekali demi mendukung mobilitas kerjanya.

"Untuk jarak jauh seperti rute pengantaran ke Ruteng, kami hanya melakukan satu kali pengisian BBM di SPBU ini dengan biaya Rp400.000 atau 58 liter untuk sekali perjalanan pulang pergi," jelas Rizal.

Adapun dalam rangkaian peninjauan lapangan ini, Sales Branch Manager PT Pertamina Patra Niaga Nusa Tenggara Timur II Fuel, Yoga Pratama, juga tampak hadir mendampingi jalannya kegiatan.

Terkini