JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bahwa pihaknya berencana segera merestrukturisasi kawasan pelabuhan perikanan di seluruh tanah air agar terbebas dari kesan kumuh serta aroma tidak sedap, sekaligus memadukannya dengan konsep pariwisata.
"Saya keliling ke dunia. Saya ke Jepang. Saya ke Australia. Saya ke Eropa, kampung nelayannya bagus-bagus, pelabuhannya juga bagus-bagus tidak ada pelabuhan yang bau dan kumuh," kata Menteri KKP Trenggono di Cirebon, Jawa Barat, Kamis, saat ground breaking proyek integrated fishing ports and international fish market phase PPN Kejawanan.
Trenggono mengungkapkan bahwa kondisi pelabuhan perikanan di Indonesia umumnya masih terkesan kumuh dan berbau, sehingga Kementerian Kelautan dan Perikanan terus berikhtiar membenahi wajah pelabuhan nasional.
Menurut pandangannya, agenda peletakan batu pertama penataan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kejawanan di Kota Cirebon menjadi salah satu langkah nyata yang tengah dieksekusi pemerintah.
Trenggono menjelaskan, selain difungsikan sebagai lokasi pendaratan dan tempat pelelangan ikan, fasilitas tersebut ke depan bakal dikembangkan agar bersinergi dengan sektor pelancongan.
"Sehingga selain produktivitas yang tinggi, kalau tempatnya bersih rasanya ketika mau mengotori itu sayang," ujarnya.
Trenggono menambahkan bahwa penataan sarana pelabuhan akan dipersiapkan secara matang, termasuk penyediaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) serta penataan zonasi kawasan industri yang rapi.
Di samping itu, tata letak dermaga untuk kapal-kapal yang bersandar pun turut ditertibkan demi mendorong perubahan kebiasaan para nelayan di lapangan.
"Kami akan bangun sedemikian rupa dan nanti fasilitas-fasilitas industri juga tidak boleh sembarangan," katanya menambahkan.
Sebagai informasi, KKP saat ini sedang mengeksekusi proyek modernisasi PPN Kejawanan di Kota Cirebon dengan mengalokasikan anggaran mencapai kisaran Rp496 miliar.
Daya tampung PPN Kejawanan Kota Cirebon yang semula hanya sanggup menampung 241 unit kapal kini ditingkatkan hingga mampu menampung 500 unit kapal.
Guna menyokong peningkatan tersebut, volume produksi hasil perikanan tangkap diproyeksikan melonjak tajam dari yang mulanya berkisar 5.600 ton menjadi 32 ribu ton per hari.