JAKARTA - Nilai jual bahan bakar minyak (BBM) pada jaringan SPBU Pertamina maupun SPBU swasta seperti Shell Indonesia dan BP-AKR masih terus menyedot perhatian warga, utamanya pascaadanya langkah koreksi tarif yang berlaku sedari awal Juli 2026. Kendati pada fase pertengahan bulan belum didapati perubahan tarif baru, sejumlah varian BBM nonsubsidi tetap dipasarkan dengan harga yang lebih miring jika disandingkan dengan bulan lalu.
Penyusutan harga yang paling signifikan dijumpai pada varian bahan bakar diesel serta BBM dengan nilai oktan tinggi, semisal Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo, hingga produk Shell V-Power Diesel. Di lain sisi, nilai jual untuk kategori BBM subsidi maupun komoditas bensin seperti varian Pertamax dan produk BP 92 konsisten bertahan pada level tarif sebelumnya.
Memasuki tanggal 19 Juli 2026, pihak Pertamina terpantau konsisten menerapkan skema berkala harga BBM yang telah diaktifkan semenjak tanggal 1 Juli 2026. Hingga pertengahan bulan berjalan ini belum ada tindakan koreksi susulan dari manajemen sehingga tarif seluruh lini produk masih serupa dengan apa yang diumumkan pada awal Juli silam.
Melalui agenda penyesuaian tarif tersebut, Pertamina memangkas nilai jual pada deretan BBM nonsubsidi, terkhusus bagi produk Pertamax Turbo serta segenap varian di lini Dex Series. Langkah penurunan harga ini menjadi salah satu yang paling masif jika disandingkan dengan catatan pada periode bulan sebelumnya.
Nilai pasar Pertamax Turbo saat ini bertengger pada level Rp19.300 per liter, melorot kisaran 7 persen dari patokan tarif Juni 2026 yang sempat menembus angka Rp20.750 per liter.
Sementara itu, untuk jenis produk Pertamina Dex merosot secara lebih tajam ke angka Rp21.150 per liter, dari posisi sebelumnya senilai Rp24.800 per liter, atau menyusut sekitar 15 persen.
Koreksi harga ke bawah juga dialami oleh produk Dexlite, yang per hari ini dijajakan senilai Rp19.700 per liter, lebih rendah dari harga bulan lalu yang dipatok Rp23.000 per liter atau mencatatkan penurunan sekitar 14 persen.
Pada sektor komoditas lain, sejumlah varian BBM milik Pertamina dilaporkan sama sekali tidak mengalami pergeseran nominal. Produk Pertamax (RON 92) tetap dilepas ke konsumen seharga Rp16.250 per liter, beriringan dengan varian Pertamax Green 95 yang masih dipatok senilai Rp17.000 per liter.
Untuk lini komoditas BBM bersubsidi, pihak pemerintah juga terpantau belum mengeksekusi kebijakan koreksi tarif. Varian Pertalite konsisten dipasarkan senilai Rp10.000 per liter, sedangkan untuk jenis Biosolar masih kokoh bertahan di harga Rp6.800 per liter.
Berikut merupakan kompilasi daftar lengkap nilai jual komoditas BBM untuk korporasi Pertamina, Shell Indonesia, serta operator BP-AKR yang berlaku per hari ini:
Pertamina
Pertalite: Rp10.000 per liter
Biosolar: Rp6.800 per liter
Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter
Pertamax Green 95: Rp17.000 per liter
Dexlite: Rp19.700 per liter
Pertamina Dex: Rp21.150 per liter
Pertamax Turbo: Rp19.300 per liter
BP-AKR
BP 92: Rp16.670 per liter
BP Ultimate: Rp17.240 per liter
BP Ultimate Diesel: Rp21.340 per liter
Shell Indonesia
Shell V-Power Diesel: Rp21.340 per liter
(Untuk jenis produk Shell Super, Shell V-Power, serta Shell V-Power Nitro+ berpedoman pada publikasi data berkala dari pihak manajemen Shell Indonesia lantaran belum didapati adanya pembaruan stok data pada sistem yang tersedia.)
Adanya disparitas nominal jual BBM di antara pihak Pertamina, Shell, serta korporasi BP-AKR dilatari oleh bermacam stimulus, mulai dari jenis produk, nilai oktan (RON), besaran cetane number (CN) bagi varian solar, ongkos distribusi, hingga ketetapan manajemen internal masing-masing badan usaha.
Di samping itu, karakteristik pasar BBM nonsubsidi senantiasa mengekor pergerakan harga minyak global dan fluktuasi kurs mata uang rupiah sehingga nominalnya dapat berubah setiap bulan. Sebaliknya, komoditas BBM bersubsidi layaknya Pertalite dan Biosolar diputuskan penuh oleh pemerintah sehingga tidak selalu mengekor dinamika pasar bebas.