JAKARTA — Memiliki dua anak atau lebih memberi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk membagikan perhatian serta kasih sayang secara seimbang.
Membagi porsi perhatian secara persis sama sering kali tidak mudah, sehingga tanpa disadari sebagian orang tua justru bersikap tidak adil kepada anak-anaknya.
Setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan dukungan tumbuh kembang yang pas sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Perasaan pilih kasih yang dibiarkan pada anak berpotensi mengganggu perkembangan emosional mereka hingga memicu konflik persaudaraan.
Terdapat beberapa metode dalam pola asuh yang dapat diterapkan oleh para orang tua guna mencegah munculnya rasa cemburu antar-anak.
Pertama, menghindari kebiasaan membandingkan kapasitas atau karakter satu anak dengan anak lainnya.
Tindakan membandingkan hanya akan menumbuhkan benih rasa benci anak terhadap orang tua maupun saudara kandungnya sendiri.
Kedua, membudayakan sikap mau meminta maaf saat orang tua melakukan kesalahan atau tindakan yang membuat anak kurang nyaman.
Kerendahan hati orang tua untuk meminta maaf akan membuat anak merasa dihargai serta tidak menanggung beban emosional.
Ketiga, menanamkan rasa kepedulian antar-saudara sejak dini agar tumbuh rasa saling membutuhkan.
Langkah ini membantu anak memandang saudaranya sebagai kawan terdekat, bukan ancaman terhadap posisinya di dalam keluarga.
Keempat, meluangkan waktu khusus untuk beraktivitas berdua saja secara bergantian dengan masing-masing anak.
Momen ini penting untuk memahami kebutuhan mendalam setiap anak serta mendengarkan perasaan jujur mereka.
Kelima, membangun komunikasi yang saling terbuka antara orang tua dan anak.
Melalui keterbukaan, orang tua bisa memahami apa yang dirasakan anak sehingga mampu mengambil respons serta tindakan yang tepat.
Keenam, melatih anak-anak untuk saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas kecil harian.
Kebiasaan bekerja sama seperti merapikan kamar atau belajar bersama dapat meminimalkan kecenderungan anak untuk saling menyalahkan.
Ketujuh, tidak menunjukkan perlakuan istimewa atau memfavoritkan salah satu anak, baik lewat tindakan maupun pujian yang berlebihan.
Perlakuan yang membedakan anak hanya akan memicu rasa cemburu sosial yang buruk bagi keharmonisan seluruh anggota keluarga.