JAKARTA - Mayoritas calon penumpang pesawat kerap menentukan jadwal keberangkatan berdasarkan pertimbangan harga tiket atau penyesuaian waktu agenda pribadi.
Padahal, pemilihan waktu terbang yang tepat terbukti mampu menekan potensi gangguan di jalan, seperti keterlambatan hingga risiko tertinggal pesawat lanjutan.
CEO sekaligus pendiri maskapai swasta Blackjet, Dean Rotchin, mengungkapkan bahwa penentuan jadwal penerbangan patut diperhitungkan sejak awal perencanaan.
Ia menganjurkan para pelancong untuk menghindari pilihan jadwal paling malam guna menjamin kelancaran perjalanan.
Menurutnya, penerbangan pada jam akhir hari menyimpan tingkat kerentanan terhadap gangguan yang paling tinggi.
"Penerbangan terburuk untuk dipesan adalah penerbangan terakhir dalam sehari. Penerbangan itu membawa semua dampak keterlambatan dari penerbangan-penerbangan sebelumnya," kata Rotchin, dikutip dari Southern Living.
Rotchin menambahkan bahwa pola operasional penerbangan berjalan layaknya sebuah efek domino yang saling berkaitan.
Rangkaian pesawat, kru kabin, hingga kesiapan gerbang keberangkatan beroperasi secara berurutan sepanjang hari penuh.
Akumulasi hambatan yang terjadi sejak pagi hari berpotensi terus merambat hingga malam tiba tanpa menyisakan ruang pemulihan.
"Pada saat penumpang naik ke pesawat, awak kabin sudah bekerja seharian penuh dan kelelahan sudah mulai terasa di dalam kabin," imbuhnya.
Dampak buruk lainnya, gangguan pada jadwal malam hari menyulitkan pencarian alternatif penerbangan pengganti akibat ketiadaan jadwal tersisa.
"Tanpa banyak pilihan cadangan. Satu penerbangan lanjutan yang terlewat bisa membuat penumpang terdampar semalaman di kota yang tidak direncanakan," kata Rotchin.
Sebagai alternatif, ia menilai rentang waktu pertengahan pagi menjadi pilihan yang paling ideal untuk memulai perjalanan.