JAKARTA — Niat besar pemerintah Republik Indonesia guna mendongkrak devisa ekspor komoditas kopi dari kisaran Rp40 triliun menjadi Rp100 triliun, bahkan melesat hingga mencapai Rp200 triliun, kini tengah membentur batu sandungan serius di lini hulu.
Di tengah momentum mahalnya harga komoditas kopi di pasaran internasional serta tingginya angka permintaan global, kapasitas hasil produksi nasional dipandang masih belum memadai untuk merespons peluang emas tersebut secara optimal.
Faktor rendahnya tingkat produktivitas lahan perkebunan, mutu hasil panen yang belum memenuhi standar maksimal, sampai dengan minimnya proses regenerasi tenaga petani menjadi sederet PR krusial yang wajib segera dituntaskan agar Indonesia mampu berdiri sejajar dan bersaing ketat dengan para raksasa produsen kopi dunia semacam Brasil dan Vietnam.
Pemerintah sendiri melihat tren lonjakan harga kopi di kancah global sebagai peluang strategis untuk melipatgandakan volume ekspor sekaligus mendongkrak taraf kesejahteraan para petani lokal.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar dalam memantapkan perannya sebagai salah satu pemain kunci pasar kopi internasional, yakni melalui strategi pengembangan kawasan sentra produksi serta penyediaan varietas bibit yang unggul.
Berdasarkan penjelasan Amran, pihak kementerian telah memprogramkan pembukaan lahan kawasan kopi baru di Provinsi Aceh seluas kurang lebih 17.000 hektare yang dikombinasikan dengan distribusi sekitar 17 juta batang bibit tanaman. Inisiatif tersebut diyakini sanggup mendongkrak pemasukan para pekebun hingga menembus angka Rp4 triliun.
BACA JUGA BI Pacu Ekspor Kopi hingga Rempah Jawa Lewat Gelaran JCFF 2026 Kopi dan Kakao Jatim Jadi Harapan Tembus Pasar Global Ekspor Nonmigas RI Tertekan, Pengiriman Kopi, Kakao, dkk Anjlok
“Kopi ini sudah mendunia. Saya masih ingat ketika melakukan kunjungan ke Meksiko dan Argentina, saya bertemu Presiden Amerika Serikat ke-42 Bill Clinton. Yang dibahas justru Kopi Gayo. Saya terharu karena itu menunjukkan Kopi Gayo benar-benar sudah dikenal dunia. Karena itu kami harus terus membantu petani kopi, termasuk di Aceh,” ujar Amran, dikutip Rabu (22/7/2026).
Dia berpandangan bahwa penguatan di sektor hulu merupakan fondasi fundamental guna mengerek daya saing kopi nusantara di kancah perdagangan global.
“Bagaimana Kopi Gayo menggetarkan dunia. Bila perlu seluruh dunia mencicipi Kopi Gayo. Sekarang nilai ekspor kopi kami sudah mencapai sekitar Rp40 triliun. Ke depan harus kami dorong menjadi Rp100 triliun, bahkan kalau bisa Rp200 triliun. Potensinya sangat besar,” katanya.
Amran menambahkan bahwa lonjakan harga jual kopi di pasaran yang meroket dari sekitar Rp50.000 menjadi kisaran Rp110.000 per kilogram membuka celah lebar bagi peningkatan pendapatan petani.
Oleh sebab itu, pemerintah turut merancang penguatan sistem tata niaga ekspor supaya posisi Indonesia tidak sekadar berhenti sebagai penyuplai bahan mentah belaka, melainkan memiliki perolehan nilai tambah yang jauh lebih tinggi di pasar internasional.
Sejalan dengan visi tersebut, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengemukakan bahwa pihak pemerintah telah mengalokasikan anggaran senilai kira-kira Rp9,9 triliun guna membiayai pengembangan sembilan komoditas sektor perkebunan prioritas, yang mencakup tanaman kopi, kakao, kelapa, pala, hingga lada.
Menurut pandangannya, pembangunan pusat-pusat sentra produksi wajib berjalan seirama dengan penguatan sektor industri hilir pengolahan serta para eksportir lokal agar nilai ekonomis komoditas tetap dinikmati oleh masyarakat di dalam negeri.
“Kalau pemerintah sedang membangun sentra kelapa, kakao, kopi, atau pala, maka pengusaha tani harus sudah bersiap menjadi pedagang, pengolah, hingga eksportir komoditas tersebut. Peluangnya sangat besar,” ujarnya.
Kendala Produksi
Kendati demikian, kalangan pelaku usaha berpendapat bahwa target ambisius untuk menggenjot angka ekspor tersebut kecil kemungkinan dapat direalisasikan dalam kurun waktu yang singkat.
Ketua Departemen Specialty dan Industri Badan Pengurus Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Moelyono Soesilo mengungkapkan bahwa target itu sebenarnya masih berada di dalam koridor realistis mengingat bentangan luas area perkebunan kopi yang dimiliki tanah air.
Walau demikian, pencapaiannya tetap menuntut proses pengembangan yang konsisten serta berkesinambungan.
“Untuk mencapai target tersebut masih sangat mungkin tercapai dengan luas area yang ada saat ini. Tapi tetap butuh waktu dan tahapan-tahapan yang harus bisa direalisasikan,” katanya
Menurut pemaparan Moelyono, problem paling mendesak yang harus segera diurai justru bersumber dari sisi produktivitas. Hingga detik ini, hasil panen kopi nasional belum sanggup memenuhi volume permintaan ekspor yang terus menunjukkan tren peningkatan.
“Produksi saat ini masih kurang untuk memenuhi permintaan ekspor,” ujarnya.
Ia membeberkan bahwa persoalan utamanya tidak terletak pada sempitnya luas lahan, melainkan rendahnya tingkat efisiensi produktivitas kebun apabila dikomparasikan dengan negara-negara produsen utama seperti Brasil dan Vietnam.
Di samping itu, sektor agribisnis kopi nasional pun dihadapkan pada tantangan regenerasi petani yang lamban. Faktor usia para pekebun yang kian menua menyebabkan proses adopsi teknologi modern dalam budidaya berjalan lambat, ditambah keterbatasan sarana produksi yang kian membatasi perolehan hasil panen.
Moelyono turut mengingatkan bahwa eskalasi nilai ekspor tidak boleh terus-menerus disandarkan pada faktor fluktuasi harga kopi dunia yang sifatnya siklikal. Upaya menggenjot kualitas mutu biji kopi justru menjadi variabel yang jauh lebih menentukan demi mendulang nilai tambah secara berkelanjutan.
Saat ini, mayoritas produk kopi asal Indonesia yang dilepas ke pasar ekspor masih menduduki kategori Grade 4 hingga Grade 5. Apabila mutu tersebut berhasil ditingkatkan ke level Grade 2 atau Grade 3, maka nilai devisa ekspor dipastikan akan terdongkrak naik tanpa harus bergantung pada lonjakan harga pasar global.
Oleh karenanya, dia mendesak pemerintah agar memusatkan alokasi dukungan pada pembenahan sektor hulu, mulai dari peningkatan produktivitas tanaman, suplai bibit unggul, pendampingan teknis budidaya, hingga pemberdayaan kapasitas petani.
Dari sudut pandang yang berbeda, potensi pasokan produksi kopi domestik sebenarnya masih menyimpan cadangan yang sangat besar. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur Rifki Ismal memaparkan bahwa total produksi kopi di Pulau Jawa sanggup mencapai angka sekitar 789.000 ton per tahun.
Khusus untuk Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai salah satu basis sentra utama dengan angka produksi menyentuh kisaran 53.000 ton, sementara wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing menyumbang produksi sekitar 25.000 ton.
Besarnya potensi sumber daya tersebut membuktikan bahwa Indonesia mempunyai modal kuat untuk memperluas volume ekspor kopi. Namun, tanpa adanya percepatan dalam aspek peningkatan produktivitas, pemulihan mutu kualitas, peremajaan petani, serta penguatan sektor hilirisasi industri, target perolehan ekspor hingga Rp200 triliun dikhawatirkan hanya akan lebih banyak ditopang oleh faktor kenaikan harga komoditas global ketimbang penguatan daya saing intrinsik kopi nasional.