Integrasi KAI dan INKA Dinilai Perkuat Ekosistem Perkeretaapian RI

Integrasi KAI dan INKA Dinilai Perkuat Ekosistem Perkeretaapian RI
Ilustrasi Kereta Api.

JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) menyatakan bahwasanya integrasi strategis antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA mampu memperkokoh ekosistem perkeretaapian nasional.

"Sudah pasti (memperkuat ekosistem perkeretaapian). Integrasi KAI dan INKA itu bagian dari ekosistem yang sama," ujar Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Konektivitas Kemenko IPK Rustam Efendi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut penjelasannya, Kemenko IPK membawahi koordinasi Kementerian Perhubungan yang di dalamnya menaungi Direktorat Jenderal Perkeretaapian, di mana lembaga tersebut selalu terlibat aktif mengawal operasional INKA maupun KAI. Oleh karena itu, Kemenko IPK dipastikan memegang peranan penting dalam koordinasi bersama kedua entitas.

"Harapannya lebih baik untuk perkeretaapian kami," katanya.

Sebagai informasi, PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Industri Kereta Api (Persero) telah memulai langkah integrasi strategis. Penggabungan ini diarahkan guna menyelaraskan proyeksi kebutuhan layanan transportasi kereta api dengan kapasitas industri manufaktur dalam negeri.

Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management Desty Arlaini menyampaikan bahwa tahapan penggabungan harus diawali lewat penyatuan visi dari seluruh lini kepemimpinan serta insan di kedua badan usaha tersebut.

Menurut Desty, kepemimpinan, tingkat kepercayaan, dan budaya kerja merupakan elemen krusial dalam keberhasilan proses integrasi. Setiap kebijakan yang diambil bakal difokuskan untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat pengguna moda kereta api, korporasi, pemegang saham, hingga negara.

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebutkan bahwa penggabungan KAI dan INKA membuka ruang besar bagi pemajuan industri manufaktur kereta api Indonesia. Pemenuhan kebutuhan sarana jangka panjang memerlukan perencanaan yang makin solid antara KAI selaku operator dan INKA sebagai pihak produsen.

Salah satu ceruk potensi terbesar bersumber dari kebutuhan armada Kereta Rel Listrik (KRL). Berdasarkan kalkulasi awal pihak KAI, proyeksi kebutuhan sarana KRL hingga tahun 2040 diperkirakan menembus angka sekitar 156 rangkaian.

Direktur Utama PT INKA (Persero) Bambang Jatmika menambahkan, pelaksanaan kick-off ini menjadi tonggak sejarah penting dari rencana integrasi yang sudah digodok selama beberapa tahun. Penggabungan ini bakal memadukan rekam jejak KAI dalam memahami dinamika operasional dengan kapabilitas INKA di bidang desain, rekayasa, serta manufaktur sarana.

Menurut Bambang, koordinasi yang kian padu akan membantu kedua belah pihak dalam menyinkronkan proyeksi kebutuhan, penjadwalan produksi, proses pengujian, serah terima unit, pengembangan inovasi teknologi, hingga peningkatan mutu produk.

Sinergi integrasi ini diharapkan mampu memperluas kapasitas industri nasional untuk menyuplai kebutuhan sarana secara lebih terencana sekaligus merespons pertumbuhan layanan kereta api di pelbagai wilayah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index