JAKARTA - Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin) Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama pihak perusahaan Tiongkok bersepakat membangun sinergi untuk memperkuat pasokan ekspor komoditas durian ke negara tersebut dengan mengandalkan mutu produk demi menjaga keberlangsungan investasi.
"Kami telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan dua perusahaan Tiongkok di Kota Chengdu pada pekan lalu untuk membangun pasokan yang profesional dan berstandar internasional," kata Ketua Apdurian Sulteng Hengky Dirus dihubungi dari Palu, Senin.
Ia menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi bentuk keseriusan dalam memperkokoh jejaring rantai pasok durian asal Sulteng menuju pasar Tiongkok.
Menurutnya, peranan Apdurin mencakup pengordinasian distribusi durian dari lahan anggota secara stabil, mutunya terjaga, sah secara hukum, serta dapat dilacak origins-nya (traceable), sembari mengaselerasi pendaftaran kebun dan packing house agar sesuai ketentuan China Customs.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Sulteng, total area kebun durian di Sulteng saat ini mencapai sekitar 36 ribu hektare, dengan 12 ribu hektare di antaranya telah aktif berproduksi untuk memenuhi pasar ekspor Tiongkok.
"Hingga kini kami terus berkolaborasi dengan pemerintah pusat maupun daerah untuk memperluas jumlah kebun durian yang teregiatrasi, supaya bisa melakukan ekspor ke negeri tirai bambu," ujarnya.
Ia memaparkan bahwa selain menjamin kesinambungan pasokan, kerja sama ini turut mencakup penyelarasan standar kualitas, sistem ketelusuran produk hulu-hilir, penguatan promosi merk durian Sulteng, hingga penetapan target distribusi.
Di sisi lain, penggunaan pupuk, pestisida, serta bahan kimia pertanian oleh para petani diwajibkan mengikuti dosis dan instruksi baku agar keamanan konsumsi dan kualitas buah senantiasa terlindungi.
"Seluruh petani yang telah teregistrasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) supaya mampu bersaing dengan negara-negara produsen durian dunia," ucap Idrus.
Ia menambahkan bahwa sampai awal tahun 2026, total pengiriman ekspor durian asal Sulteng telah menyentuh angka 7.052 ton, dengan harapan para petani konsisten menjaga standar tata kelola kebun.
"Reputasi dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa hilang karena kualitas yang tidak dijaga. Oleh karena itu petani menjadi bagian penting dalam keberhasilan ekspor. Panen pada tingkat kematangan yang tepat, serta menjaga mutu buah hingga sampai ke tangan konsumen di pasar tujuan," kata dia menuturkan.