Industri Multifinance Optimistis Pembiayaan Multiguna Tumbuh Positif

Industri Multifinance Optimistis Pembiayaan Multiguna Tumbuh Positif
Ilustrasi Kredit Mobil.

JAKARTA - Pembiayaan multiguna masih memegang peran sebagai penopang utama industri multifinance nasional.

Kendati dibayangi tantangan daya beli masyarakat, pelaku industri optimistis segmen pembiayaan ini tetap menorehkan pertumbuhan positif sampai penghujung 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai pembiayaan multiguna berada di posisi Rp256,77 triliun per Mei 2026, atau tumbuh 5,21 persen secara tahunan.

Capaian tersebut disusul oleh segmen modal kerja sebesar Rp55,36 triliun yang naik 7,96 persen, serta sektor investasi senilai Rp168,06 triliun atau terkoreksi 5,79 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menilai tren tersebut menandakan permintaan pembiayaan masih terjaga.

Hal ini turut didukung oleh fleksibilitas produk multiguna yang masih mendominasi porsi pembiayaan perusahaan multifinance.

“Adapun, besaran plafon dan agunan pembiayaan multiguna bervariasi sesuai skema dan objek pembiayaan,” tuturnya dalam lembar jawaban RDK OJK Juni 2026, dikutip pada Senin (27/7/2026).

Secara total, OJK mencatat piutang pembiayaan industri multifinance menyentuh Rp513,19 triliun pada Mei 2026, atau naik 1,71 persen secara tahunan.

Oleh karena itu, Agusman menambahkan bahwa peluang ekspansi hingga akhir tahun masih terbuka lebar di berbagai segmen industri.

Di sisi lain, regulator mencatat ada 42 perusahaan pembiayaan dengan NPF gross di atas 5 persen dan 5 perusahaan dengan NPF net melebihi 5 persen.

Adapun rata-rata NPF gross industri per Mei 2026 berada pada angka 3,06 persen dan NPF net sebesar 0,85 persen.

“OJK terus melakukan pengawasan secara ketat dan meminta perusahaan untuk melakukan langkah perbaikan antara lain melalui penguatan prinsip kehati-hatian, manajemen risiko, monitoring kualitas pembiayaan, dan optimalisasi penagihan untuk menekan NPF,” tegas Agusman.

Sementara itu, Direktur Riset Core Indonesia Etika Karyani Suwondo menilai pembiayaan multiguna memiliki prospek cerah lantaran disokong oleh konsumsi rumah tangga.

Meski demikian, ia memproyeksikan pertumbuhannya cenderung moderat akibat dinamika suku bunga, daya beli yang belum pulih penuh, serta sikap hati-hati perusahaan pembiayaan.

Maka dari itu, ia menyarankan agar lini bisnis ini memperkuat credit scoring berbasis data, memperluas kemitraan digital, serta lebih selektif menyaring nasabah.

“Jadi, fokusnya bukan lagi mengejar volume pembiayaan, tetapi pertumbuhan yang berkualitas dengan risiko yang terukur,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (23/7/2026).

Etika menambahkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kualitas kredit di tengah naiknya biaya dana dan tekanan pada kemampuan bayar publik.

“Industri juga perlu mewaspadai kenaikan kredit bermasalah akibat pembiayaan konsumtif yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan debitur,” tegasnya.

Sinyal positif ini turut tecermin pada performa PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) dan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance).

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menyatakan perusahaannya membukukan piutang pembiayaan multiguna sebesar Rp2,51 triliun pada semester I-2026.

“Segmen ini berkontribusi sebesar 25% terhadap total piutang pembiayaan Perseroan di semester I/2026 yaitu Rp9,87 triliun,” ucapnya kepada Bisnis, Rabu (22/7/2026).

Ristiawan menjelaskan bahwa strategi utama perseroan berfokus pada transformasi digital untuk mempercepat serta menyederhanakan alur transaksi bagi calon nasabah.

Guna mengantisipasi risiko ekonomi dan dinamika daya beli, CNAF mengedepankan manajemen risiko yang ketat, analisis kredit yang prudent, serta pemantauan portofolio secara berkala.

Ia melihat prospek pembiayaan multiguna pada semester II-2026 tetap menjanjikan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

“Di sisi lain, kemudahan akses dan proses pembiayaan yang cepat menjadikan pembiayaan multiguna sebagai solusi pendanaan yang efektif dan relevan bagi masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan finansial,” tegasnya.

Pada periode yang sama, BRI Finance mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan multiguna hingga 44,74 persen secara tahunan, dengan kontribusi 10,88 persen terhadap portofolio perusahaan.

Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani menyampaikan bahwa perusahaan bakal mengoptimalkan sinergi dengan BRI Group serta memperluas jaringan pemasaran.

Ia menilai tantangan utama saat ini adalah menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan kualitas aset di tengah persaingan industri yang makin ketat.

Oleh sebab itu, BRI Finance terus memperkuat manajemen risiko dan memprioritaskan segmen nasabah yang berprofil risiko baik.

Aditia meyakini tren pembiayaan multiguna di semester II-2026 tetap bernilai positif seiring terjaganya aktivitas ekonomi serta ekspektasi suku bunga yang lebih stabil.

“Meski demikian, kami tetap mencermati dinamika ekonomi global dan kondisi likuiditas yang berpotensi memengaruhi kepercayaan konsumen dan permintaan pembiayaan,” kata Aditia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index