JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memperkuat jalinan kemitraan antara Indonesia dan Australia dalam pengembangan sistem irigasi modern di kawasan cetak sawah Dadahup, Kalimantan Tengah, guna memacu produktivitas serta ketahanan pangan nasional.
"Kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional melalui penerapan teknologi dan tata kelola air yang lebih modern," kata Mentan di Jakarta, Selasa.
Penguatan kerja sama tersebut ditegaskan melalui agenda pertemuan bilateral terbatas antara Mentan Andi Amran Sulaiman dan Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.
Mentan mengapresiasi dukungan Pemerintah Australia lewat Australian Water Partnership (AWP) yang memfasilitasi Expert Mission di area Dadahup.
Menurut pandangannya, hasil riset kajian para ahli Australia kian memperkuat keyakinan bahwa kawasan Dadahup mengantongi potensi besar menjadi percontohan pertanian rawa modern di tanah air.
"Hasil kajian para ahli Australia menunjukkan Dadahup memiliki potensi besar menjadi model pertanian rawa modern. Rekomendasi yang diberikan sangat sejalan dengan prioritas Indonesia dalam mempercepat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) 300 dan memperkuat ketahanan pangan nasional," ujar Mentan.
Guna mempercepat realisasi rekomendasi, Indonesia mendorong lima langkah strategis, mencakup pembentukan Joint Technical Working Group, penyusunan Integrated Water Management Masterplan and Roadmap Dadahup, serta penguatan tata kelola air berbasis petani.
Langkah berikutnya yakni penguatan kapasitas SDM melalui pemanfaatan teknologi digital seperti telemetry, remote sensing, dan decision support system, serta penetapan Dadahup sebagai Indonesia-Australia Demonstration Project dan laboratorium hidup pertanian rawa modern.
Sinergi ini merupakan kelanjutan dari peninjauan tenaga ahli Australia ke kawasan cetak sawah Dadahup pada April 2026 yang menjadi fokus pemerintah dalam pengembangan lahan rawa produktif.
Selain berfokus pada pengembangan kawasan Dadahup, dialog bilateral ini turut menyepakati penguatan sektor perdagangan pertanian antara Indonesia dan Australia.
Pada sektor peternakan, Mentan meminta komitmen dukungan Australia untuk menjaga kontinuitas pasokan sapi hidup ke Indonesia guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Ke depannya, Indonesia dan Australia sepakat memperluas penetrasi kerja sama di ranah investasi, riset, inovasi, pengembangan SDM, serta penyediaan pupuk demi mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Merespons hal itu, Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier menyatakan kesiapan Australia untuk menindaklanjuti berbagai poin pembahasan bersama Kementerian Pertanian.
Brazier memaparkan bahwa dokumen laporan akhir hasil kajian para ahli Australia terkait Dadahup telah diserahkan resmi kepada Mentan sebagai acuan penyusunan langkah strategis lanjutan.
"Kami berharap laporan ini dapat membantu Indonesia meningkatkan produktivitas kawasan Dadahup dan menjadikannya contoh pengembangan pertanian rawa modern," ujar Brazier.
Ia pun berharap alur perizinan impor dapat berlangsung kian lancar sehingga dinamika perdagangan pertanian kedua negara menjadi lebih efisien dan menguntungkan.
Berdasarkan catatan data tahun 2025, nilai total perdagangan sektor pertanian Indonesia dan Australia menembus sekitar 3,2 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia mencapai 203 juta dolar AS dan impor dari Australia sebesar 3 miliar dolar AS.