JAKARTA - PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) secara resmi mengoperasikan fasilitas pabrik perakitan Mazda di Indonesia usai merampungkan serangkaian studi mendalam, Selasa (28/7/2026).
Fasilitas produksi yang berdiri di Citeureup, Bogor, Jawa Barat, tersebut menjadi babak baru perjalanan Mazda di Tanah Air yang selama ini menggantungkan pasokan unit dari impor utuh.
Pabrik yang dibangun melalui investasi awal sebesar Rp400 miliar tersebut bakal segera memulai produksi perdana (job one) dengan mengusung model Mazda CX-30 yang dirakit secara Semi-knocked down (SKD).
"After long long decision, fasilitas ini akhirnya datang juga. Saya mengapresiasi langkah Mazda, pabrikan terakhir Jepang, yang masuk dan membuat pabrik di Indonesia," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta.
Ia optimis kehadiran pabrik perakitan tersebut sanggup menjadi pendorong utama bagi Mazda dan Eurokars dalam memperluas investasi serta menyerap tenaga kerja lokal.
Chief Operating Officer (COO) PT Eurokars Motor Indonesia sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia Ricky Thio menegaskan, peresmian pabrik perakitan ini merupakan langkah awal membangun basis manufaktur di dalam negeri.
"Hari ini menjadi momen yang penting bagi Mazda di Indonesia. Yang kami resmikan bukan sekadar manufaktur melainkan wujud nyata bahwa Indonesia memiliki talenta dan kapasitas dalam mednukung pengembangan Mazda di Indonesia," kata dia.
Ricky menyampaikan bahwa pengembangan fasilitas ini dikerjakan lewat kolaborasi erat bersama Mazda Motor Corporation demi memberikan nilai tambah bagi industri otomotif nasional.
Pihaknya menjelaskan bahwa perakitan Mazda CX-30 di Indonesia baru berupa langkah awal dari rencana jangka panjang ekspansi manufaktur mereka.
"Kami mulai dengan satu model, tetapi tidak berhenti di situ. Ini adalah baby step. Nanti akan menjadi giant step," kata Ricky.
Pendekatan bertahap ini diterapkan sesuai filosofi manufaktur Jepang yang memprioritaskan kesiapan matang sebelum mengulirkan produksi massal secara luas.
"We think first, then we act. Itu cara kami. Kami mempersiapkan semuanya terlebih dahulu, baru menjalankan produksi sesuai standar yang sudah ditetapkan," ujar Ricky.
Ia menambahkan, nilai investasi Rp400 miliar masih berpotensi bertambah seiring penyempurnaan fasilitas penunjang produksi global, dengan seluruh modal murni berasal dari internal perusahaan.
"Initial investment sekitar Rp 400 miliar. Investasi terus berjalan karena menjelang mass production masih ada beberapa penambahan fasilitas sesuai standar global Mazda," kata dia.
"Seratus persen investasi berasal dari kami," tegasnya.
Pabrik Mazda Indonesia Plant berdiri di atas lahan seluas 6,2 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 5.700 unit per tahun yang dilengkapi delapan area utama serta lintasan pengujian (test track).
Seluruh tahapan produksi juga terintegrasi secara digital serta wajib melalui audit kualitas ketat, mulai dari process audit, product audit, hingga Mazda Quality Index for Customer (MQIC).
Dengan menerapkan filosofi Monozukuri dan Takumi Craftsmanship, Mazda menargetkan zero defect agar mutu rakitan lokal sepadan dengan buatan pabrik Hiroshima di Jepang.
"Jadi apa yang didapat konsumen dari produksi dalam negeri tidak akan berbeda dengan hasil produksi Mazda Motor Corporation di Hiroshima," kata Ricky.