JAKARTA - Momen Pekan Menyusui Sedunia kembali menjadi pengingat akan krusialnya proses menyusui. Langkah ini merupakan pemenuhan standar emas kecukupan gizi sekaligus bentuk perlindungan utama pada 1.000 hari pertama kehidupan seorang anak.
Kendati demikian, tantangan yang dihadapi para ibu muda masih tergolong besar. Hambatan tersebut mulai dari minimnya pemahaman, iklan yang menyesatkan, hingga terbatasnya dukungan dari lingkungan keluarga.
Kesiapan ibu menghadapi persalinan dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) semestinya disiapkan sejak trimester akhir kehamilan. Permasalahan fisik seperti puting melesak dapat diantisipasi melalui konsultasi rutin bersama konselor laktasi atau bidan.
Pihak fasilitas kesehatan yang justru mendorong penggunaan susu formula tanpa indikasi medis mendasar bahkan dapat dijerat sanksi sesuai regulasi hukum yang berlaku.
Sejumlah studi ilmiah membuktikan bahwa aktivitas menyusui berdampak langsung pada tingkat kecerdasan, perilaku, hingga fungsi eksekutif otak anak, meliputi daya ingat serta kelenturan kognitif.
Meski ASI bukan faktor tunggal dalam tumbuh kembang anak, tak dapat dimungkiri bahwa ASI merupakan nutrisi terbaik yang komposisinya secara alami menyesuaikan kebutuhan bayi.
Di sisi lain, minimnya sorotan terhadap regulasi pemasaran susu formula turut menggoyahkan rasa percaya diri para ibu baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa formula lanjutan sejatinya tidak diperlukan dan bukan pengganti ASI.
Proses keberhasilan menyusui tidak sepatutnya terdistraksi oleh kepentingan industri. Ketidaktahuan terkait pola pemberian makan anak hendaknya diselesaikan lewat edukasi, bukan sekadar membagikan produk olahan industri.
Peran tenaga kesehatan yang berkompeten dalam penanganan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) menjadi kunci utama, ketimbang program pembagian makanan gratis yang berisiko tidak tepat sasaran.