Banggar DPR Nilai Faktor Musiman Dorong Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen

Banggar DPR Nilai Faktor Musiman Dorong Ekonomi RI Tumbuh 5,2 Persen
Ketua Badan Anggaran DPR RI MH Said Abdullah.

JAKARTA - Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) RI menilai bahwa faktor musiman menjadi pendorong utama perekonomian Indonesia tumbuh 5,2 persen pada triwulan II tahun 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu (yoy).

Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah mengutarakan bahwa momentum libur sekolah pada Juli lalu menyumbang kontribusi signifikan terhadap laju sektor akomodasi, makanan, serta minuman yang mampu tumbuh 10,6 persen (yoy).

"Demikian halnya saat memasuki masa penerimaan sekolah dan pendidikan tinggi, serta kenaikan kelas," tutur Said dalam keterangan di Jakarta, Kamis.

Ia memaparkan bahwa faktor musiman tersebut turut mendongkrak kinerja sektor telekomunikasi hingga sanggup menorehkan pertumbuhan 6,97 persen pada triwulan kedua tahun ini.

Di samping itu, Said menjelaskan bahwa musim kemarau memicu peningkatan konsumsi listrik untuk pendingin ruangan, sementara eskalasi konflik geopolitik mengerek harga gas sehingga sektor listrik dan gas melonjak hingga 10,81 persen (yoy).

Meski demikian, ia mengingatkan pihak pemerintah untuk mengantisipasi penurunan laju pertumbuhan di sektor industri pengolahan. Pada triwulan I 2026, sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan 5,04 persen, tetapi melambat menjadi 4,52 persen (yoy) pada triwulan II 2026.

"Pemerintah penting untuk mewaspadai hal ini sebab industri pengolahan menyumbangkan 18,5 persen PDB (produk domestik bruto) sekaligus kontributor 13,5 persen tenaga kerja nasional, serta cerminan dari sebagian besar tenaga kerja formal," ucap dia.

Bulan lalu, lanjutnya, agenda panen padi serentak telah berlangsung di pelbagai daerah, namun pencapaian tersebut belum cukup kuat memberikan tren positif bagi sektor pertanian.

Pada triwulan I 2026 sektor pertanian sanggup tumbuh 4,97 persen, sedangkan pada kuartal II pertumbuhannya melambat menjadi 3,81 persen (yoy).

Menurut penilaiannya, dinamika ini patut mendapatkan perhatian serius dari pemerintah mengingat sektor pertanian merupakan pilar sektor primer sekaligus penyumbang 13,57 persen terhadap PDB nasional.

Di samping itu, Said menambahkan bahwa sektor pertanian menyerap 28,75 persen tenaga kerja secara nasional sehingga memiliki peranan yang teramat strategis.

Dari sisi permintaan, ia melanjutkan bahwa tingkat konsumsi rumah tangga mengalami sedikit perlambatan. Apabila pada triwulan I 2026 mampu tumbuh 5,52 persen berkat terdorong momentum mudik dan Lebaran, maka pada triwulan II 2026 penyesuaian terjadi menjadi 5,05 persen (yoy).

Kendati demikian, ia menegaskan pencapaian ini tetap patut disyukuri mengingat konsumsi rumah tangga sebagai pilar utama penopang 53,3 persen PDB masih terjaga dengan baik.

Pada saat bersamaan, sambung dia, laju investasi barang modal (PMTB) serta kinerja ekspor menunjukkan tren pertumbuhan positif.

Tercatat, PMTB mampu tumbuh 6,87 persen dan performa ekspor meningkat 4,13 persen, padahal pada triwulan pertama tahun ini ekspor nasional hanya mencatatkan kenaikan 0,9 persen (yoy).

"Di tengah gejolak geopolitik dan ketidakmenentuan perekonomian global, kami bersyukur perekonomian nasional masih tumbuh 5,29 persen," ucap Said.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index