JAKARTA - Emiten sektor batu bara PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) mengajukan usulan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) demi memaksimalkan target produksi sepanjang 2026.
Pihak perseroan saat ini masih menanti hasil peninjauan serta evaluasi resmi dari pemerintah terkait permohonan tersebut.
Presiden Direktur IATA Suryo Eko Hadianto menyampaikan bahwasanya perseroan tetap konsisten menggerakkan aktivitas operasional berlandaskan rencana kerja awal sembari menanti keputusan final dari Kementerian ESDM.
“Perseroan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan produksi batu bara di tahun 2026. Saat ini, Perseroan masih menunggu hasil evaluasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) atas pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disampaikan sebelumnya,” ujar Suryo dalam keterangan resmi, Selasa (11/8/2026).
Permohonan revisi RKAB tersebut menjadi salah satu penggerak utama yang patut dicermati terhadap peta proyeksi produksi IATA pada rentang semester II/2026.
Meskipun begitu, pihak manajemen belum membeberkan besaran alokasi tambahan kuota produksi yang diusulkan maupun estimasi waktu terbitnya keputusan penetapan revisi RKAB tersebut.
Saat ini, IATA mengendalikan tiga entitas Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang telah beroperasi aktif, yaitu PT Putra Muba Coal (PMC), PT Arthaco Prima Energy (APE), serta PT Indonesia Batu Prima Energi (IBPE).
Penggabungan ketiga IUP tersebut menyimpan total potensi sumber daya batu bara sebesar 598,23 juta metrik ton (MT) dengan cadangan mencapai 287,83 juta MT.
Rincian data internal perseroan mencatat PMC memiliki cakupan sumber daya 66,71 juta MT dan cadangan 44,63 juta MT. Sementara itu, APE mengapit sumber daya 441,93 juta MT dengan cadangan 222,07 juta MT.
Adapun entitas IBPE tercatat memegang potensi sumber daya 89,59 juta MT beserta porsi cadangan sebesar 21,13 juta MT.
Suryo mengutarakan bahwa sokongan ekosistem terpadu dari Karya Pacific Group selaku entitas pengendali anyar turut menjadi bagian dari haluan strategi perseroan untuk melipatgandakan kapabilitas operasional serta daya tampung produksi.
“Dengan dukungan ekosistem terintegrasi Karya Pacific Group sebagai pengendali baru, Perseroan memiliki posisi yang semakin kuat untuk meningkatkan kapabilitas operasional dan kapasitas produksi melalui sinergi di bidang pertambangan, logistik, dan infrastruktur pendukung,” katanya.
IATA menyebutkan bahwa bantuan jaringan tersebut mencakup sarana strategis seperti pelabuhan muat batu bara (jetty), timbangan kendaraan, hingga alur jalan pengangkutan (hauling road).
Perseroan juga mengamankan dukungan mitra kontraktor tambang untuk pengerjaan pembersihan lahan, pemindahan lapisan tanah penutup beserta lumpur, pengerukan tanah pucuk, penggalian dan pengangkutan batu bara, hingga tata kelola penampungan material.
Ditinjau dari langkah korporasi, IATA mempertegas keputusan perubahan nama identitas dari yang semula PT MNC Energy Investments Tbk menjadi PT Karya Pacific Energy Tbk.
Aksi strategis tersebut telah mengantongi persetujuan sah dari para pemegang saham dalam ajang Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Juni 2026, yang disusul dengan peresmian logo baru perusahaan pada 10 Agustus 2026.
Manajemen menegaskan bahwasanya transformasi identitas tersebut tidak memberi dampak pada roda operasional maupun komitmen kepada para pelanggan, mitra kerja, investor, kreditur, serta pemangku kepentingan. Seluruh hak beserta kewajiban perseroan dipastikan tetap berjalan sesuai regulasi yang berlaku.