TRENENERGI.COM — Kemenangan di set pertama hanya menjadi kejutan sesaat bagi Indonesia. Setelah sempat unggul 25-19, perlawanan anak asuh pelatih asal Brasil itu justru ambruk di tiga set berikutnya. Iran tampil dominan dan nyaris tanpa kesulitan membongkar pertahanan Tim Merah Putih.
Kejutan di Set Pertama, Ancaman di Set Kedua
Indonesia membuka laga dengan percaya diri. Keunggulan 3-0 langsung dipetik, lalu menjauh jadi 7-3. Meski Iran sempat mendekat lewat serangan Medi Yoku, Maradanti Namira menebus kesalahan dengan service ace yang membawa Indonesia unggul 20-18.
Chelsa Berliana menjadi motor kemenangan set pertama. Dua kali quick attack-nya sukses menembus blok Iran, memastikan Indonesia menutup set dengan skor meyakinkan 25-19.
Memasuki set kedua, pertahanan Iran mulai rapat. Reli panjang sempat terjadi, dan Ersandrina Devega sempat membawa Indonesia unggul 14-13 melalui smes dari posisi empat. Namun, serangan Iran yang mulai agresif membuat Indonesia kehilangan ritme dan menyerah 16-25.
Iran Menggila, Blok Indonesia Tak Berdaya
Keunggulan di set kedua membuat Iran tampil semakin percaya diri di set ketiga. Smes keras Khalili dari posisi empat langsung membawa Iran unggul 5-1. Serangan dari kedua sayap, terutama melalui Elahe dan Zahra, membuat blok Indonesia tak mampu menjangkau bola.
Iran menutup set ketiga dengan telak 25-12. Dominasi berlanjut di set keempat. Blok Iran tampil solid, berulang kali membendung smes Chelsa Berliana dan Arneta Putri. Smes Manzouri dan Ayda dari posisi empat memastikan kemenangan Iran dengan skor 25-17.
Mimpi Sejarah Indonesia Kandas di Tianjin
Kemenangan ini membawa Iran melaju ke babak semifinal AVC Women's Volleyball Continental Championship 2026. Sementara bagi Indonesia, kekalahan ini menjadi pukulan telak karena gagal mencetak sejarah dengan lolos ke semifinal untuk kali pertama.
Ketergantungan pada serangan dari sisi luar dan kesulitan membaca serangan cepat Iran menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim pelatih. Evaluasi menyeluruh diperlukan untuk membangun tim yang lebih kompetitif di ajang Asia, mengingat voli putri Indonesia masih terus mengejar ketertinggalan dari negara-negara elite seperti Iran, China, dan Jepang.