TRENENERGI.COM — Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) membenarkan penahanan tersebut. Yiannopoulos disebut melanggar izin tinggal setelah masuk AS melalui New York City pada 14 Mei 2019.
Vonis Deportasi dan Proses Hukum
DHS menyatakan seorang hakim imigrasi telah mengeluarkan perintah deportasi final pada 22 Juli. Perintah itu diterbitkan setelah Yiannopoulos gagal menghadiri sidang imigrasinya.
"Dia akan tetap berada dalam tahanan ICE sampai proses pemulangan dilakukan," tulis juru bicara DHS, Jumat (20/6).
DHS juga mengunggah foto penahanan pria 41 tahun itu di media sosial. Dalam unggahannya, DHS memperingatkan bahwa warga asing yang melebihi masa izin tinggal akan "ditangkap dan dideportasi tanpa kesempatan kembali".
Catatan daring tidak menyebutkan fasilitas detensi spesifik yang menahan Yiannopoulos. Pihak keluarga dan kuasa hukum diminta menghubungi kantor lapangan ICE di Alexandria, Louisiana.
Kronologi dan Reaksi Publik
Yiannopoulos berada di New Orleans untuk menghadiri konser musisi Ye, yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West. Media hiburan TMZ pertama kali melaporkan penahanan ini.
Sekutu Trump yang kerap menyebar teori konspirasi, Laura Loomer, mengklaim dirinya berperan dalam penahanan tersebut. Loomer menyebut momen ini sebagai "hari besar bagi Amerika".
"Saya orang pertama yang melaporkan bahwa Milo berada di AS secara ilegal, di mana dia menghasut kekerasan terhadap Presiden Trump dan bekerja untuk Marjorie Traitor Greene," tulis Loomer di platform X.
Loomer dan Yiannopoulos memang kerap berseteru di publik. Pada September 2024, Yiannopoulos sempat membeberkan dugaan masalah kesehatan mental Loomer dan mengklaim lawannya itu pernah dirawat paksa di fasilitas psikiatri.
Rekam Jejak Kontroversi
Yiannopoulos dikenal karena unggahan provokatif dan sentimen anti-Islam. Akun Twitter-nya dilarang permanen pada Juli 2016, sebelum akhirnya dipulihkan setelah Elon Musk mengambil alih platform tersebut.
Setelah kembali, dia menerbitkan serangkaian unggahan bernada keras, termasuk menyebut "dunia Muslim cacat secara fungsional". Pada Juni 2025, dia sempat mendesak pemerintahan Trump untuk "mendeportasi jutaan orang".
Kini, Yiannopoulos mengelola perusahaan manajemen bakat bernama Tarantula yang berbasis di Los Angeles. Perusahaan itu mengklaim memiliki "koneksi, modal, dan keahlian yang tak tertandingi" untuk para kliennya.
Situs Tarantula mencantumkan sejumlah nama kontroversial sebagai klien, seperti Trump, Ye, terpidana penipuan Martin Shkreli, dan rapper Azealia Banks.