JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) guna meredam fluktuasi harga cabai rawit melalui mobilisasi stok dari wilayah surplus ke daerah defisit.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyatakan bahwa langkah tersebut mendesak untuk merespons dinamika harga serta pasokan cabai rawit di berbagai daerah.
Bapanas dan Kementan kembali berkoordinasi menentukan kawasan pendukung pelaksanaan FDP, termasuk melibatkan petani Champion Cabai binaan Kementan.
"Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kami respons. Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kami dukung melalui FDP," ucap Ketut dalam keterangan resmi, dikutip Senin (14/9/2026).
Menurut Ketut, keterlibatan petani Champion Cabai membantu penyediaan pasokan berharga terjangkau untuk disalurkan ke wilayah berharga tinggi.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kami bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kami undang kembali para petani champion kami untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," ujarnya.
Catatan Bapanas menunjukkan FDP cabai rawit sepanjang kuartal I/2026 mencapai 5.590 kilogram (kg), mencakup pengiriman dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebanyak 3.150 kg.
Selain itu, sebanyak 1.140 kg dikirim ke Lombok Tengah dan 1.300 kg ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Program ini terbukti menurunkan inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) serta memicu deflasi pada April 2026.
Di sisi lain, Bapanas dan Kementan mencatat fluktuasi harga dipicu oleh kemarau panjang, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam petani.
Meski demikian, Kementan memastikan pasokan nasional mencukupi. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto menyebut produksi cabai rawit September 2026 diperkirakan mencapai 119.000 ton.
"Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119.000 ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5.000-an [ton]," kata Sudi.
Produksi di Pulau Jawa seperti Temanggung, Brebes, dan Magelang masih tergolong rendah karena baru memasuki masa tanam, tetapi diproyeksikan mampu mengantisipasi lonjakan harga menjelang Natal dan Tahun Baru.
"Kemudian untuk di daerah Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksinya walaupun masih relatif rendah karena mungkin baru sebagian besar tanam, tapi nanti itu dapat mengatasi potensi adanya kenaikan menjelang hari Natal dan Tahun Baru," sambungnya.
Sudi menambahkan, petani binaan Kementan siap mensuplai pasokan ke wilayah yang mengalami lonjakan harga.
"Seandainya nanti ada program pemerintah untuk dapat melakukan distribusi ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, artinya dari produksi yang ada. Mereka sudah bersiap untuk dapat membantu mengendalikan daerah-daerah yang harga cabai rawitnya tinggi. Mereka prinsipnya sudah siap untuk dapat membantu mensuplai daerah-daerah yang harganya cukup tinggi," ujarnya.
Berdasarkan pantauan Bapanas per 10 September 2026, rata-rata harga cabai rawit nasional berada di angka Rp81.052 per kg, dengan harga tertinggi di Sulawesi Utara (Rp152.872 per kg) dan terendah di Nusa Tenggara Timur (Rp56.604 per kg).