Pertamina NRE Olah 300 Ton Sampah Bandung per Hari Jadi Bahan Bakar

Rabu, 16 September 2026 | 18:25:00 WIB

TRENENERGI.COMPertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menandatangani nota kesepahaman pengembangan proyek percontohan Decentralized Waste Management (DWM) di Kota Bandung, Senin (14/9), dengan target mengolah 300 ton sampah kota per hari. Proyek ini menjadi langkah awal mengubah sampah menjadi sumber daya dan energi bernilai tambah, bukan sekadar limbah yang dibuang ke TPA.

Penandatanganan MoU berlangsung di Kantor Danantara, Jakarta, dan dihadiri sejumlah pejabat dari Danantara, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Pertamina NRE, PLN Energi Primer Indonesia, serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung. Setelah MoU diteken, para pihak akan melanjutkan kajian melalui feasibility study sebelum masuk ke tahap konstruksi.

300 Ton Sampah Kota Jadi Bahan Baku Harian

Dalam konsep awalnya, fasilitas DWM di Bandung dirancang mengolah sekitar 300 ton municipal solid waste (MSW) per hari. Sampah itu akan melewati rangkaian proses mechanical sorting dan material recovery, mulai dari bag opening, screening, magnetic separation, ballistic separation, hingga eddy current separation.

Proses tersebut memisahkan material yang masih punya nilai daur ulang, fraksi organik atau fines, serta fraksi combustible yang bisa diproses lebih lanjut. Fraksi combustible inilah yang nantinya diolah menjadi bahan bakar alternatif.

Dari Sampah ke Solid Recovered Fuel

Fraksi combustible yang sudah dipisahkan akan melalui tahap pencacahan, pengeringan, pencampuran, dan pengendalian kualitas untuk menghasilkan Solid Recovered Fuel (SRF) dengan karakteristik lebih konsisten. SRF berpotensi menggantikan sebagian penggunaan bahan bakar fosil, baik lewat co-firing di pembangkit listrik maupun untuk kebutuhan energi sektor industri.

Dalam konsep yang masih dikaji, fraksi combustible dari MSW juga bisa dikombinasikan dengan sekam untuk menghasilkan blended SRF. Kombinasi itu akan diverifikasi berdasarkan karakteristik bahan baku, kualitas produk, keberlanjutan supply chain, serta kebutuhan calon offtaker.

Director Proyek & Operasi Pertamina NRE, Norman Ginting, menegaskan pendekatan ini berbeda dari pengelolaan sampah konvensional.

"Sampah tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai. Melalui proyek ini, kita ingin mendorong transformasi dari waste menjadi resource, dan selanjutnya dari waste menjadi value," ujar Norman pada Senin (14/9).

Bukan Sekadar Mesin Pengolah Sampah

Norman menekankan nilai teknologi proyek ini bukan cuma terletak pada peralatan pengolah sampah. Menurut dia, yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mengubah sampah heterogen menjadi material dan bahan bakar yang konsisten, terukur, dan bernilai ekonomi.

"Nilai teknologi proyek ini bukan hanya terletak pada mesin pengolah sampah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sistem yang mampu mengubah sampah yang sangat heterogen menjadi material dan bahan bakar yang lebih konsisten, terukur, dan memiliki nilai ekonomi," lanjutnya.

Keberhasilan proyek ini bergantung pada integrasi di sepanjang rantai nilai. Mulai dari kepastian pasokan dan karakteristik sampah, kesiapan lahan dan infrastruktur, ketersediaan bahan pendukung, kualitas produk, hingga kepastian offtaker.

Dalam struktur awal proyek, Pertamina NRE direncanakan berperan sebagai developer sekaligus operator, dengan dukungan pemerintah daerah serta mitra engineering, procurement and construction (EPC), technology provider, supplier, dan offtaker.

Uji Kelayakan dan Rencana Replikasi

Feasibility study yang akan dijalankan mencakup karakteristik dan supply chain sampah, spesifikasi produk akhir, supply chain sekam, pemilihan technology provider, konfigurasi teknologi, utilitas, pekerjaan sipil, serta kebutuhan perizinan.

Pertamina NRE berharap proyek percontohan di Bandung bisa menjadi model pengelolaan sampah yang technically proven, commercially viable, environmentally sustainable, dan replicable untuk dikembangkan di kota lain.

"Ambisi kita tidak berhenti pada pembangunan satu fasilitas. Yang ingin kita bangun adalah sebuah model. Jika Bandung dapat menunjukkan bahwa pengelolaan sampah terintegrasi dapat berjalan secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan, maka model ini berpotensi direplikasi di berbagai wilayah Indonesia," kata Norman.

Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini bisa menjadi cetak biru pengelolaan sampah perkotaan yang tidak lagi bergantung pada TPA, sekaligus memasok bahan bakar alternatif bagi pembangkit listrik dan industri.

Terkini